Klikindonesia – Sejak puluhan tahun silam, Makam Teuku Umar Johan Pahlawan, terletak di Desa Mugoe Rayeuk, Kecamatan Panton Reu, Aceh Barat, telah menjadi saksi bisu perjuangan seorang pahlawan nasional yang gigih melawan penjajahan. Namun belakangan ini, perhatian terhadap pemeliharaan makam tersebut dirasa Dr. Iswadi, M.Pd., sangat kurang memadai.
Dr. Iswadi, tokoh pendidikan dan aktivis asal Aceh yang kini menjabat Ketua Umum SPBI (Solidaritas Pemersatu Bangsa Indonesia), menyerukan kepada Pemerintah Aceh dan pemangku kepentingan terkait agar segera mengambil langkah konkret untuk merawat makam, bukan hanya sebagai wujud penghormatan, tetapi agar tempat bersejarah itu tidak kehilangan maknanya bagi generasi mendatang.
Menurut Dr. Iswadi, pemeliharaan makam pahlawan bukan sekadar tugas formal pemerintah atau instansi tertentu; ia adalah kewajiban moral bangsa. Kita tidak bisa hanya bangga dengan nama Teuku Umar pada buku sejarah, tapi mengabaikan makamnya seperti terlupakan di sudut waktu,” ujarnya. Baginya, makam adalah simbol identitas dan patriotisme, tempat para peziarah dan pelajar bisa belajar sejarah dengan rasa hormat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sikap Dr. Iswadi muncul di tengah fakta bahwa meskipun sudah pernah ada beberapa upaya perbaikan, masih ada banyak kekurangan. Fasilitas bagi peziarah, akses jalan, rumah singgah, dan infrastruktur pendukung makam masih belum stabil atau memadai. Ia menyebut bahwa fasilitas ibadah seperti mushola di kompleks makam, gapura, pagar, serta ruang istirahat dan area sekeliling makam harus diperhatikan secara berkala, bukan hanya sesekali renovasi besar.
Dalam beberapa laporan penyelenggaraan renovasi, disebutkan bahwa Kodam Iskandar Muda dan satuan TNI di Aceh Barat sudah melakukan revitalisasi dan rehab makam Teuku Umar, termasuk memperbaiki musala, gapura, pagar, lantai, serta fasilitas pendukung seperti rumah singgah dan balai tamu. Meski demikian, Dr. Iswadi berpendapat bahwa partisipasi pemerintah daerah dan provinsi masih bisa ditingkatkan baik dari sisi anggaran, pengawasan, maupun kesinambungan pemeliharaan.
Selain masalah fisik, Dr. Iswadi juga menekankan bahwa pemaknaan tempat bersejarah tersebut harus dijaga: makam pahlawan seperti Teuku Umar bukan hanya tempat wisata, melainkan ruang pendidikan dan refleksi. Generasi muda harus diajak untuk memahami siapa Teuku Umar, latar perjuangannya, serta mengapa warisannya penting hingga saat ini. Ia mengajak sekolah, lembaga pendidikan, komunitas sejarah, dan masyarakat umum mendukung dengan menjaga kebersihan, partisipasi dalam pelestarian, dan menjadikan makam itu pusat budidaya nilai-nilai nasionalisme.
Permintaan Dr. Iswadi datang pada momentum penting: beberapa renovasi sudah selesai misalnya fasilitas mushola dan area lain telah diperbaiki. Namun, ia mengingatkan bahwa renovasi sekali waktu saja tidak cukup; perlu ada komitmen jangka panjang dari Pemerintah Aceh dan pemda setempat agar perawatan makam dilakukan rutin, dana alokasi tersedia, dan pihak terkait saling koordinasi.
Dr. Iswadi juga menyarankan Pemerintah Aceh mengalokasikan dana tetap dalam APBD untuk pemeliharaan makam-makam pahlawan, termasuk Teuku Umar, dan melibatkan masyarakat serta stakeholder budaya untuk pengawasan agar tidak ada bagian makam yang ditelantarkan. Ia yakin, dengan sinergi seperti itu, makam Teuku Umar dapat menjadi destinasi sejarah dan religius yang tidak hanya terawat secara fisik tetapi juga bermakna secara kultural.
Pesannya jelas Jangan biarkan makam pahlawan kita terbengkalai. Biarkan tangan kita bersama memperbaiki yang rusak, merawat yang rapuh, agar generasi yang akan datang bisa menatap masa lalu dengan bangga. Dr. Iswadi menegaskan bahwa penghormatan terhadap makam Teuku Umar bukan sekadar formalitas, melainkan wujud nyata penghargaan terhadap pengorbanan. Tanpa penghargaan itu, identitas dan semangat perjuangan pun bisa tergerus waktu.
Publik kini menunggu respons Pemerintah Aceh: apakah permintaan ini akan diikuti tindakan nyata yang berkelanjutan alokasi anggaran, pembentukan tim pemelihara, dan komitmen untuk menjadikan makam Teuku Umar sebagai warisan hidup yang terus dijaga bukan sekadar pusara diam yang terlupakan.##











