Penulis: Dr. Iswadi, M.Pd.
Dosen Universitas Esa Unggul Jakarta
Opini : Sultan Iskandar Muda merupakan salah satu tokoh besar dalam sejarah Nusantara yang tidak hanya dikenal sebagai pemimpin militer yang gagah berani, tetapi juga sebagai penguasa visioner yang memberi perhatian besar terhadap pendidikan dan pembinaan moral masyarakat. Masa pemerintahannya pada tahun 1607–1636 sering disebut sebagai periode keemasan Kesultanan Aceh Darussalam. Pada masa inilah Aceh berkembang menjadi pusat kekuatan politik, ekonomi, dan keilmuan di kawasan Asia Tenggara. Di balik kejayaan tersebut, terdapat warisan nilai-nilai pendidikan yang kuat dan mendalam, yang hingga kini tetap relevan dalam membangun karakter bangsa.
Salah satu warisan paling mendasar dari Sultan Iskandar Muda adalah peneguhan nilai keislaman sebagai landasan utama kehidupan. Islam tidak hanya dipraktikkan dalam bentuk ibadah ritual, tetapi dijadikan dasar dalam penyelenggaraan pemerintahan, hukum, dan kehidupan sosial masyarakat. Pendidikan diarahkan untuk membentuk manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Dalam pandangannya, ilmu tanpa moral akan kehilangan arah, sementara moral tanpa ilmu akan kehilangan kekuatan. Oleh karena itu, keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kematangan spiritual menjadi inti dari sistem pendidikan pada masa itu. Nilai ini mengajarkan bahwa tujuan pendidikan bukan sekadar mencetak individu yang cerdas, tetapi juga pribadi yang bertanggung jawab dan beretika.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pada masa kepemimpinannya, Aceh berkembang menjadi pusat studi Islam yang disegani. Banyak ulama dan cendekiawan dari berbagai wilayah datang untuk berdiskusi, mengajar, dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Kehadiran para sarjana tersebut menjadikan Aceh sebagai tempat pertukaran gagasan dan pemikiran keislaman. Hal ini menunjukkan bahwa Sultan Iskandar Muda memiliki pandangan yang terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Ia memahami bahwa kemajuan sebuah kerajaan sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusianya. Oleh sebab itu, penghargaan terhadap ilmu dan para ulama menjadi bagian penting dari kebijakannya. Warisan nilai pendidikan yang dapat dipetik dari sikap ini adalah pentingnya budaya belajar, sikap terbuka terhadap pengetahuan baru, serta penghormatan terhadap guru sebagai pembimbing intelektual dan moral.
Selain menekankan pentingnya ilmu, Sultan Iskandar Muda juga dikenal sebagai pemimpin yang tegas dan disiplin. Ia menerapkan hukum secara adil dan konsisten demi menjaga ketertiban serta kestabilan kerajaan. Ketegasan tersebut bukanlah bentuk kekuasaan yang sewenang-wenang, melainkan bagian dari proses mendidik masyarakat agar menjunjung tinggi aturan dan keadilan. Nilai disiplin dan tanggung jawab menjadi pelajaran nyata yang diwariskan kepada rakyatnya. Kepemimpinan yang adil dan berintegritas merupakan bentuk pendidikan melalui keteladanan. Dalam hal ini, Sultan Iskandar Muda menunjukkan bahwa seorang pemimpin adalah pendidik bagi rakyatnya, dan sikapnya akan menjadi contoh bagi generasi berikutnya.
Warisan nilai pendidikan lainnya tercermin dalam semangat persatuan yang dibangunnya. Ia berhasil memperluas wilayah kekuasaan Aceh dan mempersatukan berbagai daerah di bawah satu pemerintahan yang kuat. Upaya ini tidak hanya menunjukkan kemampuan strategi politik dan militer, tetapi juga visi besar tentang pentingnya solidaritas dan kebersamaan. Rakyat didorong untuk memiliki rasa cinta tanah air serta kesadaran akan pentingnya mempertahankan kedaulatan bersama. Nilai persatuan ini merupakan bagian dari pendidikan kebangsaan yang menanamkan semangat kolektif dalam menghadapi tantangan, termasuk ancaman dari kekuatan asing yang mulai memasuki wilayah Nusantara pada masa itu.
Dalam bidang kelembagaan, berkembangnya dayah atau lembaga pendidikan Islam tradisional menjadi salah satu bukti nyata perhatian Sultan Iskandar Muda terhadap pendidikan. Dayah berfungsi sebagai pusat pembelajaran agama, sekaligus tempat pembinaan karakter dan kehidupan sosial. Para teungku atau guru memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian para santri. Pendidikan yang berlangsung tidak hanya berfokus pada penguasaan ilmu agama, tetapi juga pada pembentukan akhlak, kedisiplinan, dan tanggung jawab sosial. Sistem pendidikan berbasis komunitas ini menegaskan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemimpin, guru, dan masyarakat.
Selain itu, Sultan Iskandar Muda mewariskan nilai keberanian dan keteguhan dalam menghadapi tantangan. Pada masanya, Aceh berhadapan dengan berbagai kekuatan kolonial yang berusaha menguasai jalur perdagangan strategis. Dalam situasi tersebut, ia menunjukkan semangat pantang menyerah dan keberanian dalam mempertahankan kedaulatan. Sikap ini menjadi bagian dari pendidikan karakter yang menekankan pentingnya ketahanan mental, semangat juang, dan pengorbanan demi kepentingan bersama. Generasi yang dididik dengan nilai-nilai tersebut diharapkan mampu menghadapi berbagai perubahan dan tantangan zaman dengan penuh keyakinan.
Secara keseluruhan, warisan nilai-nilai pendidikan Sultan Iskandar Muda mencerminkan integrasi antara iman dan ilmu, kepemimpinan yang adil dan disiplin, semangat persatuan, serta pembinaan karakter melalui lembaga pendidikan yang kuat. Nilai-nilai tersebut bukan hanya relevan dalam konteks sejarah Aceh, tetapi juga memiliki makna universal dalam dunia pendidikan modern. Pendidikan yang berlandaskan moral, menghargai ilmu, menumbuhkan rasa tanggung jawab, serta memperkuat solidaritas sosial merupakan fondasi penting bagi kemajuan bangsa.
Dengan demikian, Sultan Iskandar Muda tidak hanya dikenang sebagai raja besar dalam sejarah, tetapi juga sebagai tokoh pendidikan yang meletakkan dasar-dasar pembentukan karakter masyarakat. Warisan nilai-nilai pendidikannya tetap hidup dan dapat menjadi inspirasi dalam membangun generasi yang cerdas, berakhlak, dan berjiwa kepemimpinan.##











