Jakarta : Era digital telah mengubah hampir setiap aspek kehidupan manusia, termasuk dunia pendidikan. Di tengah arus teknologi yang semakin pesat, muncul kebutuhan mendesak untuk meninjau kembali makna pendidikan itu sendiri. Dr. Iswadi memandang bahwa pendidikan di era digital bukan sekadar proses adaptasi terhadap teknologi, melainkan sebuah gerakan pembebasan pembebasan cara berpikir, cara belajar, dan cara mengelola pengetahuan. Menurutnya, pendidikan harus mampu melahirkan manusia merdeka: bebas berpikir, kreatif, dan inovatif, namun tetap berakar pada nilai nilai kemanusiaan dan keilmuan.
Transformasi pengetahuan yang terjadi saat ini bukan lagi bersifat linear dan satu arah seperti dalam model pendidikan tradisional. Di masa lalu, guru dianggap sebagai satu-satunya sumber ilmu, sementara siswa menjadi penerima pasif. Namun di era digital, akses terhadap informasi begitu terbuka dan luas. Internet telah menjadikan setiap individu sebagai pencari dan pengelola pengetahuan. Dalam konteks ini, peran guru bukan lagi sekadar penyampai materi, tetapi sebagai fasilitator, mentor, dan inspirator yang menuntun siswa menemukan dan membangun pengetahuannya sendiri.
Dr. Iswadi menekankan bahwa esensi pendidikan di era digital adalah transformasi pengetahuan. Transformasi ini tidak hanya berarti memindahkan proses belajar ke ruang digital, tetapi juga mengubah paradigma berpikir tentang bagaimana ilmu dikonstruksi. Teknologi, bagi Dr. Iswadi, hanyalah alat. Yang terpenting adalah bagaimana teknologi digunakan untuk memperluas kesempatan belajar, memfasilitasi kolaborasi, serta menumbuhkan kreativitas dan kemampuan berpikir kritis. Pendidikan digital sejati bukan tentang seberapa canggih alatnya, tetapi seberapa besar kontribusinya dalam membebaskan potensi manusia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Inovasi pembelajaran menjadi kunci dalam proses ini. Dr. Iswadi mendorong model pembelajaran yang bersifat partisipatif, interaktif, dan kontekstual. Melalui pembelajaran berbasis proyek, kolaborasi daring, serta integrasi media digital, peserta didik diajak untuk belajar secara aktif dan reflektif. Guru dituntut tidak hanya mahir mengoperasikan teknologi, tetapi juga memiliki digital mindset cara berpikir terbuka, kreatif, dan adaptif terhadap perubahan. Dengan demikian, inovasi pembelajaran bukan sekadar perubahan metode, melainkan juga perubahan budaya belajar.
Namun, Dr. Iswadi juga mengingatkan akan tantangan yang menyertai transformasi digital dalam pendidikan. Ketimpangan akses terhadap teknologi, literasi digital yang rendah, serta risiko penyalahgunaan informasi menjadi persoalan serius yang harus diatasi bersama. Oleh karena itu, pemerintah, lembaga pendidikan, guru, dan masyarakat harus berkolaborasi menciptakan ekosistem pendidikan digital yang inklusif dan berkeadilan. Digitalisasi pendidikan tidak boleh melahirkan kesenjangan baru antara mereka yang “melek digital” dan yang tertinggal dalam arus teknologi.
Lebih jauh, Dr. Iswadi melihat bahwa kebebasan dalam belajar di era digital juga harus diimbangi dengan tanggung jawab etis dan moral. Kemudahan mengakses informasi tidak berarti semua informasi bernilai kebenaran. Karena itu, pendidikan digital harus mengajarkan kemampuan literasi digital yang kuat: kemampuan memilah, menilai, dan menggunakan informasi secara bijak. Pembebasan dalam belajar tidak boleh berubah menjadi kebingungan dalam berinformasi. Di sinilah peran guru dan lembaga pendidikan tetap penting, sebagai penjaga nilai dan penuntun arah di tengah banjir data dan informasi.
Bagi Dr. Iswadi, masa depan pendidikan adalah masa depan kolaboratif. Dunia digital memungkinkan terbangunnya jaringan pembelajaran global di mana setiap individu dapat saling berbagi pengalaman, pengetahuan, dan gagasan. Proses belajar tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu. Setiap orang bisa menjadi pembelajar sepanjang hayat (lifelong learner). Inilah hakikat pendidikan membebaskan yang sesungguhnya: membangun manusia yang tidak berhenti belajar, berpikir kritis, dan berinovasi demi kemajuan bersama.
Transformasi pengetahuan dan inovasi pembelajaran yang diusung Dr. Iswadi bukan hanya relevan dengan perkembangan teknologi, tetapi juga menjadi fondasi bagi pembangunan bangsa yang berdaya saing. Pendidikan yang membebaskan akan melahirkan generasi yang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan, namun tidak kehilangan jati dirinya. Mereka bukan sekadar pengguna teknologi, melainkan pencipta dan pengendali perubahan.
Akhirnya, visi Dr. Iswadi tentang pendidikan di era digital menegaskan bahwa masa depan pendidikan bukan semata soal digitalisasi, tetapi soal kemanusiaan. Teknologi hanyalah sarana, sedangkan tujuan utama pendidikan tetaplah sama: memanusiakan manusia. Dalam dunia yang semakin terdigitalisasi, justru nilai nilai kemanusiaan, kreativitas, dan empati harus diperkuat. Pendidikan di era digital, sebagaimana ditegaskan Dr. Iswadi, adalah perjalanan menuju kebebasan berpikir dan berinovasi sebuah ikhtiar untuk melahirkan manusia yang berpengetahuan luas, berkarakter kuat, dan siap menghadapi tantangan zaman.##











