Jakarta : Pendidikan selalu menjadi fondasi utama bagi kemajuan bangsa. Namun, di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, banyak pihak mulai mempertanyakan: apakah arah pendidikan Indonesia saat ini masih relevan dengan kebutuhan masa depan? Pertanyaan itu pula yang menjadi titik awal pemikiran Dr. Iswadi, seorang pendidik dan pemikir yang selama bertahun tahun mengamati dinamika dunia pendidikan nasional. Menurutnya, sistem pendidikan Indonesia saat ini membutuhkan arah baru sebuah pembaruan yang bukan hanya menyentuh kurikulum, tetapi juga cara berpikir seluruh ekosistem pendidikan.
Dr. Iswadi menilai bahwa persoalan terbesar pendidikan Indonesia bukan semata pada kualitas guru atau fasilitas sekolah, melainkan pada paradigma yang belum berubah. Kita masih terlalu fokus pada hasil ujian, bukan pada proses belajar. Padahal, yang dibutuhkan anak anak kita di masa depan adalah kemampuan berpikir kritis, berkolaborasi, dan beradaptasi dengan perubahan,ujarnya kepada awak media
Ia mengibaratkan sistem pendidikan kita seperti kapal besar yang telah lama berlayar di jalur yang sama, tanpa benar benar meninjau kembali peta tujuannya. Dunia sudah bergerak menuju era digital, disrupsi teknologi terjadi di segala bidang, sementara banyak sekolah masih terpaku pada pola belajar abad ke-20. Di sinilah Dr. Iswadi menekankan pentingnya arah baru pendidikan Indonesia sebuah pergeseran dari pendidikan yang berpusat pada guru menuju pendidikan yang berpusat pada murid.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, arah baru itu harus dimulai dari pemahaman bahwa setiap anak memiliki potensi yang unik. Pendidikan tidak boleh menyeragamkan, tetapi harus memfasilitasi keberagaman. Dalam konteks ini, guru berperan bukan hanya sebagai pengajar, melainkan juga sebagai fasilitator dan pembimbing. Guru di masa depan bukan lagi satu satunya sumber pengetahuan. Tugas utama guru adalah menuntun siswa menemukan makna belajar dan mengaitkannya dengan kehidupan nyata, tegasnya.
Selain itu, Dr. Iswadi menyoroti pentingnya integrasi teknologi secara bijak. Bukan sekadar menggunakan gawai di kelas, tetapi menjadikan teknologi sebagai sarana untuk memperkaya proses pembelajaran. Ia mengingatkan bahwa literasi digital harus menjadi bagian dari kurikulum inti, agar generasi muda tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pencipta teknologi. Kita tidak bisa lagi mengajarkan anak-anak dengan cara lama untuk menghadapi masa depan yang baru, tambahnya.
Arah baru pendidikan yang ditawarkan Dr. Iswadi juga menekankan nilai nilai karakter dan kemanusiaan. Ia percaya bahwa kemajuan teknologi tanpa fondasi moral justru bisa menimbulkan krisis kemanusiaan. Oleh karena itu, ia mendorong agar pendidikan karakter tidak hanya menjadi mata pelajaran tambahan, tetapi terintegrasi dalam setiap aspek pembelajaran. “Pendidikan sejati adalah tentang membentuk manusia yang utuh cerdas secara intelektual, emosional, dan spiritual, katanya.
Dalam gagasannya, transformasi pendidikan tidak bisa dilakukan secara parsial. Pemerintah, lembaga pendidikan, guru, orang tua, hingga masyarakat luas harus berjalan beriringan. Setiap pihak memiliki peran dalam membentuk budaya belajar yang sehat. Dr. Iswadi menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, termasuk dunia industri, agar pendidikan mampu menjawab kebutuhan nyata di lapangan kerja. Ia mencontohkan bagaimana negara negara maju berhasil membangun sistem pendidikan adaptif yang melibatkan sektor swasta dan komunitas lokal dalam proses belajar.
Lebih jauh, ia mengajak para pendidik untuk keluar dari zona nyaman. Inovasi, menurutnya, tidak selalu berarti teknologi canggih, tetapi keberanian mencoba hal baru di ruang kelas. Misalnya, memberi ruang bagi siswa untuk melakukan proyek nyata, berdiskusi terbuka, dan belajar memecahkan masalah sosial di sekitarnya. Pendidikan harus menjadi jembatan antara teori dan kehidupan, ujar Dr. Iswadi dengan penuh keyakinan.
Pandangan Dr. Iswadi ini mendapat perhatian luas karena mampu menjawab tantangan pendidikan masa kini dengan cara yang membumi. Ia tidak sekadar berbicara tentang konsep ideal, tetapi memberikan arah yang konkret: membangun sistem yang memerdekakan peserta didik, menumbuhkan rasa ingin tahu, dan menyiapkan mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Visi ini sejalan dengan semangat yang sedang digalakkan pemerintah, namun Dr. Iswadi menambahkan bahwa kemerdekaan belajar harus disertai dengan tanggung jawab dan kesadaran moral. “Kita ingin anak-anak kita bebas berpikir, tetapi juga bijak bertindak,katanya.
Pada akhirnya, pesan Dr. Iswadi sederhana namun mendalam: pendidikan adalah investasi jangka panjang yang menentukan arah bangsa. Jika kita ingin Indonesia menjadi bangsa yang unggul dan berdaya saing global, maka arah baru pendidikan harus segera diwujudkan. Bukan sekadar mengganti kurikulum, melainkan membangun ekosistem belajar yang memanusiakan manusia.
“Pendidikan yang baik bukan yang membuat anak hafal banyak hal, tutup Dr. Iswadi, btetapi yang menumbuhkan cinta belajar dan keinginan untuk terus memperbaiki diri.
Dan mungkin, dari gagasan gagasan seperti inilah, arah baru pendidikan Indonesia akan benar benar menemukan jalannya.##











