Indonesia Emas 2045 Harus Dimulai dari Pendidikan yang Adil dan Membebaskan

- Jurnalis

Senin, 10 November 2025 - 05:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_131072

Oplus_131072

Jakarta : Indonesia tengah menapaki jalan panjang menuju satu cita cita besar: Indonesia Emas 2045. Tahun tersebut bukan sekadar angka atau slogan pembangunan, melainkan simbol dari harapan bangsa untuk menjadi negara maju, berdaulat, adil, dan makmur tepat di usia 100 tahun kemerdekaannya. Namun, sebagaimana ditegaskan oleh Dr. Iswadi, impian besar itu tidak akan pernah terwujud tanpa fondasi yang kokoh, yakni sistem pendidikan yang adil dan membebaskan.

Pendidikan selalu menjadi jantung peradaban. Di dalamnya terkandung kekuatan untuk mengubah nasib individu sekaligus menggerakkan kemajuan bangsa. Sayangnya, di tengah kemajuan teknologi dan derasnya arus globalisasi, kesenjangan pendidikan di Indonesia masih begitu terasa. Akses, kualitas, dan relevansi pendidikan masih belum merata di seluruh pelosok negeri. Inilah yang menjadi keprihatinan Dr. Iswadi, seorang akademisi sekaligus pemerhati pendidikan yang meyakini bahwa Indonesia tidak akan mencapai emas nya bila pendidikan masih berpihak hanya pada segelintir kalangan.

Menurut Dr. Iswadi, pendidikan yang adil bukan berarti sekadar memberikan kesempatan yang sama kepada semua anak bangsa untuk bersekolah, tetapi juga memastikan bahwa setiap peserta didik, tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, maupun geografis, mendapatkan mutu pendidikan yang setara. Ia menekankan bahwa keadilan dalam pendidikan berarti negara harus hadir untuk menjembatani kesenjangan antara kota dan desa, antara sekolah negeri dan swasta, serta antara mereka yang mampu dengan yang kurang mampu.

ADVERTISEMENT

paralax

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di berbagai daerah, masih banyak anak yang harus berjalan berkilometer melewati sungai dan hutan untuk sampai ke sekolah. Ada pula gurunguru yang mengabdi di daerah terpencil dengan fasilitas terbatas dan akses informasi yang minim. Kondisi ini, menurut Dr. Iswadi, menunjukkan bahwa cita cita mencerdaskan kehidupan bangsa belum sepenuhnya merata. Oleh karena itu, visi Indonesia Emas 2045 harus dimulai dari keberpihakan nyata kepada mereka yang terpinggirkan dalam sistem pendidikan.

Namun, keadilan saja tidak cukup. Pendidikan juga harus membebaskan. Dr. Iswadi mengutip gagasan Ki Hadjar Dewantara, bahwa pendidikan seharusnya memerdekakan manusia lahir dan batin. Pendidikan yang membebaskan bukanlah pendidikan yang mengekang, melainkan yang menumbuhkan rasa ingin tahu, mendorong kreativitas, serta menuntun peserta didik menemukan jati dirinya. Pendidikan tidak boleh sekadar menjadi alat mencetak tenaga kerja, tetapi harus menjadi sarana pembentukan manusia seutuhnya manusia yang berpikir kritis, beretika, dan berdaya cipta.

Dalam pandangan Dr. Iswadi, sistem pendidikan saat ini masih cenderung menekankan pada hasil ujian, bukan pada proses pembelajaran yang bermakna. Anak anak didorong untuk menghafal, bukan untuk memahami. Mereka dipacu untuk bersaing, bukan untuk berkolaborasi. Padahal, dunia masa depan menuntut kemampuan berpikir kreatif, komunikasi yang efektif, dan kerja sama lintas bidang. Tanpa perubahan paradigma ini, generasi Indonesia akan kesulitan bersaing di panggung global.

Pendidikan yang membebaskan berarti memberi ruang bagi peserta didik untuk mengekspresikan potensi dan bakatnya. Setiap anak adalah unik, dan tugas pendidikan adalah menuntun, bukan menyeragamkan. Sekolah harus menjadi tempat yang menyenangkan, tempat di mana anak anak belajar tanpa rasa takut salah, tanpa tekanan yang berlebihan, dan tanpa diskriminasi. Guru, sebagai ujung tombak pendidikan, juga harus dibekali dengan kompetensi pedagogis dan karakter yang kuat untuk menjadi pembimbing yang inspiratif.

Dr. Iswadi menegaskan bahwa peran guru tidak dapat tergantikan oleh teknologi. Di era digital, kecerdasan buatan dapat membantu proses belajar, tetapi nilai nilai kemanusiaan hanya bisa ditanamkan oleh pendidik yang memiliki empati dan keikhlasan. Karena itu, kebijakan pendidikan menuju Indonesia Emas harus memberikan perhatian besar pada kesejahteraan, pelatihan, dan penghargaan terhadap profesi guru.

Selain itu, pendidikan yang adil dan membebaskan juga harus bersinergi dengan nilai nilai kebudayaan dan kearifan lokal. Indonesia yang majemuk memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, dan pendidikan harus mampu menjadikannya sebagai sumber pembelajaran. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter kebangsaan yang kuat, menghargai perbedaan, dan menjunjung tinggi nilai nilai moral serta spiritual.

Dr. Iswadi percaya bahwa kunci menuju Indonesia Emas bukan terletak pada pembangunan fisik semata, melainkan pada pembangunan manusia. Gedung tinggi, jalan tol, dan teknologi mutakhir tidak akan bermakna jika manusia yang mengelolanya tidak memiliki integritas dan kemampuan berpikir kritis. Maka, pendidikan menjadi pondasi utama dalam membangun bangsa yang beradab dan berdaya saing.

Visi Indonesia Emas 2045 hanya dapat diwujudkan jika seluruh pihak pemerintah, lembaga pendidikan, masyarakat, dan keluarga bersatu membangun ekosistem pendidikan yang inklusif dan humanis. Dr. Iswadi menutup gagasannya dengan sebuah pesan sederhana namun mendalam: Kita tidak bisa menunggu masa depan datang dengan sendirinya. Kita harus menyiapkannya dari sekarang, dan pendidikan yang adil serta membebaskan adalah langkah pertama menuju Indonesia Emas yang sesungguhnya.##

Berita Terkait

Prof Sutan Nasomal Amerika Mengirimkan Pasukan Ke Gerbang Kematian Sendiri Mengerikan Tantang Kematian Massal!!!
Dr. Iswadi Serukan Penghormatan Nasional atas Wafatnya Teungku Nyak Sandang
Dr. Iswadi: Reshuffle Kabinet Harus Perkuat Integritas dan Teknokrasi, Bukan Sekadar Kompromi Politik
DPP PJS Kumpulkan Pimpinan DPD Se-Indonesia, Bahas Persiapan Final Konstituen Dewan Pers
Dr. Iswadi Tanggapi Isu Reshuffle Kabinet Merah Putih: Momentum Evaluasi dan Penguatan Kinerja Pemerintahan
Ketum SPBI Dr. Iswadi Ajak Masyarakat Jaga Persatuan dan Kepercayaan Publik Menuju Indonesia Stabil dan Maju 2029
Menjaga Marwah Demokrasi: Dr. Iswadi Tolak Narasi Menjatuhkan Pemerintahan di Luar Mekanisme Konstitusi
Menjaga Marwah Demokrasi: Dr. Iswadi Tolak Narasi Menjatuhkan Pemerintahan di Luar Mekanisme Konstitusi

Berita Terkait

Jumat, 10 April 2026 - 06:15 WIB

Prof Sutan Nasomal Amerika Mengirimkan Pasukan Ke Gerbang Kematian Sendiri Mengerikan Tantang Kematian Massal!!!

Kamis, 9 April 2026 - 21:25 WIB

Dr. Iswadi Serukan Penghormatan Nasional atas Wafatnya Teungku Nyak Sandang

Rabu, 8 April 2026 - 07:02 WIB

DPP PJS Kumpulkan Pimpinan DPD Se-Indonesia, Bahas Persiapan Final Konstituen Dewan Pers

Selasa, 7 April 2026 - 21:56 WIB

Dr. Iswadi Tanggapi Isu Reshuffle Kabinet Merah Putih: Momentum Evaluasi dan Penguatan Kinerja Pemerintahan

Selasa, 7 April 2026 - 15:53 WIB

Ketum SPBI Dr. Iswadi Ajak Masyarakat Jaga Persatuan dan Kepercayaan Publik Menuju Indonesia Stabil dan Maju 2029

Berita Terbaru