Jakarta : Visi Indonesia Emas 2045 adalah gambaran ideal tentang sebuah bangsa yang maju, berdaulat, adil, dan makmur ketika Indonesia genap berusia seratus tahun. Namun, sebagaimana ditegaskan oleh Dr. Iswadi, visi besar itu tidak akan berarti apa apa tanpa fondasi pendidikan yang kuat dan berkeadilan. Bagi beliau, pendidikan bukan sekadar urusan ruang kelas, tetapi proyek peradaban yang menentukan arah masa depan bangsa. Melalui pemikiran kritisnya, Dr. Iswadi menawarkan gagasan bahwa transformasi pendidikan adalah jalan utama untuk memastikan Indonesia benar benar siap menyambut masa keemasan itu.
Menurut Dr. Iswadi, tantangan terbesar pendidikan Indonesia saat ini bukan hanya pada kualitas, tetapi juga pada ketimpangan dan paradigma. Ia menilai bahwa sistem pendidikan kita masih banyak diwarisi dari model lama berorientasi pada ujian, seragam, dan kontrol yang justru membatasi potensi peserta didik. Pendidikan seperti itu, kata Dr. Iswadi, telah lama menjauh dari hakikatnya sebagai proses memerdekakan manusia. “Pendidikan seharusnya membuat manusia berpikir bebas, bukan sekadar menghafal dan patuh,” tegasnya.
Dalam kerangka transformasi pendidikan, Dr. Iswadi menekankan tiga dimensi utama: transformasi paradigma, pemerataan akses dan kualitas, serta integrasi teknologi yang humanis.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pertama, transformasi paradigma pendidikan. Ia menolak pandangan bahwa pendidikan hanya bertujuan menyiapkan tenaga kerja. Bagi Dr. Iswadi, pendidikan sejati harus melahirkan manusia yang utuh: cerdas, berkarakter, dan peduli pada kemanusiaan. Ia mengutip filosofi Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan harus menuntun tumbuhnya potensi anak sesuai kodratnya. Maka, proses belajar tidak boleh sekadar transmisi ilmu, melainkan pembentukan kepribadian dan kesadaran kritis. Guru dalam konteks ini tidak lagi menjadi pusat pengetahuan, tetapi fasilitator yang menyalakan rasa ingin tahu dan semangat belajar sepanjang hayat.
Ia juga menyoroti pentingnya pembebasan dalam berpikir dan belajar. Pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang memungkinkan peserta didik bertanya, menafsirkan, bahkan berbeda pendapat tanpa takut dihakimi. Merdeka belajar bukan hanya jargon, kata Dr. Iswadi, “tetapi sikap mental untuk mengakui keberagaman cara berpikir dan belajar. Dengan cara itu, peserta didik tumbuh menjadi manusia kreatif dan mandiri bukan hanya peniru.
Kedua, Dr. Iswadi menekankan pemerataan akses dan kualitas pendidikan sebagai syarat utama menuju Indonesia Emas 2045. Kesenjangan antara daerah perkotaan dan pedesaan masih sangat lebar, baik dari segi sarana, guru, maupun kesempatan. Padahal, di sanalah letak ketidakadilan struktural yang menghambat kemajuan bangsa. Pendidikan yang adil bukan berarti memberikan hal yang sama kepada semua, melainkan memberi yang sesuai kebutuhan masing-masing. Pemerintah, kata Dr. Iswadi, harus berani mengambil kebijakan afirmatif bagi daerah tertinggal dan kelompok rentan agar tidak ada anak Indonesia yang kehilangan kesempatan karena tempat lahirnya.
Dalam pandangannya, investasi terbesar bangsa ini seharusnya adalah pada manusia. Infrastruktur jalan, jembatan, dan gedung penting, tetapi pendidikan membentuk manusia yang akan mengelola semuanya. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi guru, kurikulum kontekstual, dan pembelajaran berbasis nilai menjadi keharusan. Dr. Iswadi percaya, guru adalah ujung tombak perubahan , sehingga mereka harus dimuliakan secara profesional dan diberikan ruang untuk terus belajar.
Ketiga, integrasi teknologi dalam pendidikan menjadi aspek penting dalam pemikiran Dr. Iswadi, tetapi ia memberi catatan tegas: digitalisasi harus tetap berjiwa humanis. Teknologi memang membuka peluang besar dalam memperluas akses dan meningkatkan efisiensi, tetapi tanpa arah moral, ia bisa menjauhkan manusia dari nilai nilai kemanusiaan. Oleh karena itu, ia mendorong agar pemanfaatan teknologi di sekolah tidak hanya untuk mengganti buku dengan gawai, tetapi juga untuk menumbuhkan kolaborasi, empati, dan kreativitas. Teknologi harus memperkuat rasa kemanusiaan, bukan melemahkannya, ujarnya.
Dr. Iswadi juga menyoroti pentingnya sinergi multipihak dalam pembangunan pendidikan. Pemerintah tidak bisa bekerja sendirian. Dunia usaha, lembaga masyarakat, media, dan keluarga harus berperan aktif membangun ekosistem pendidikan yang berkelanjutan. Dunia industri, misalnya, dapat berkontribusi bukan hanya dengan menyediakan lapangan kerja, tetapi juga dengan mendukung riset, magang, dan program pengembangan keterampilan yang relevan. Sementara itu, keluarga harus kembali menjadi lingkungan belajar pertama yang menanamkan nilai-nilai moral dan karakter.
Lebih dari sekadar ide, pemikiran Dr. Iswadi adalah ajakan untuk melakukan refleksi bersama: apakah sistem pendidikan kita benar benar menyiapkan generasi 2045 untuk menghadapi tantangan zaman yang kompleks? Dalam dunia yang dipenuhi disrupsi teknologi, krisis lingkungan, dan ketimpangan sosial, bangsa ini membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berempati, berintegritas, dan berjiwa gotong royong.
Pada akhirnya, Dr. Iswadi meyakini bahwa transformasi pendidikan adalah kunci menuju Indonesia Emas 2045. Ia bukan sekadar reformasi kebijakan, tetapi perubahan cara pandang terhadap manusia dan masa depan. Pendidikan harus menjadi ruang yang menumbuhkan harapan, bukan ketakutan; ruang yang membebaskan, bukan mengekang; dan ruang yang menumbuhkan cinta pada sesama dan tanah air. Kalau kita menanam pendidikan yang adil dan membebaskan hari ini, tutup Dr. Iswadi, “maka pada 2045, kita akan menuai generasi emas yang tidak hanya pintar, tetapi juga berjiwa besar.##











