Jakarta: Di tengah arus zaman yang semakin pragmatis, di mana pendidikan kerap diukur dengan nilai ujian dan gelar akademik, muncul sosok yang memandang pendidikan sebagai sesuatu yang jauh lebih luhur. Sosok itu adalah Dr. Iswadi, seorang pemikir dan pendidik yang menjadikan ilmu pengetahuan bukan sekadar sarana mencari pekerjaan, tetapi alat perjuangan untuk membebaskan manusia dari kebodohan dan ketidakadilan. Baginya, ilmu adalah bentuk perlawanan paling elegan senjata tanpa kekerasan untuk menciptakan perubahan sosial yang sejati.
Sejak muda, Dr. Iswadi telah menyadari bahwa pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya menjadi ruang pembebasan. Banyak lembaga pendidikan yang masih terjebak dalam pola lama: otoriter, menekan kreativitas, dan mematikan daya kritis siswa. Dalam pandangannya, pendidikan yang hanya berorientasi pada angka dan hafalan tidak akan melahirkan manusia merdeka. Sebaliknya, ia akan menciptakan generasi yang patuh tanpa berpikir, serta mudah dikendalikan oleh sistem yang tidak adil.
Karena itulah, Dr. Iswadi mengusung gagasan besar yang ia sebut sebagai revolusi pendidikan pembebasan. Ia percaya bahwa pendidikan harus mampu menumbuhkan kesadaran kritis conscientization seperti yang digagas oleh Paulo Freire. Kesadaran inilah yang menjadi inti dari manusia yang merdeka: manusia yang mampu mengenali realitas sosial, memahami struktur ketidakadilan, dan berani bertindak untuk memperbaikinya. Dalam kerangka pemikiran Dr. Iswadi, pendidikan bukan hanya proses mentransfer pengetahuan, tetapi proses memanusiakan manusia
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di berbagai tulisan dan kuliah , Dr. Iswadi kerap mengkritik sistem pendidikan nasional yang terlalu menekankan kompetisi, bukan kolaborasi. Ia menilai, pendidikan yang dijiwai semangat persaingan hanya akan melahirkan egoisme dan ketimpangan sosial. Padahal, hakikat pendidikan adalah menumbuhkan solidaritas, keadilan, dan empati terhadap sesama. Ilmu pengetahuan sejati tidak membuat manusia merasa lebih tinggi, tetapi membuatnya lebih rendah hati untuk melayani,” ujarnya dalam salah satu pidatonya.
Dalam praktiknya, Dr. Iswadi menerapkan gagasan pembebasan ini dalam setiap ruang belajar yang ia pimpin. Kelas baginya bukan arena kekuasaan, melainkan ruang dialog. Ia memperlakukan murid bukan sebagai gelas kosong yang harus diisi, melainkan sebagai subjek berpikir yang memiliki pandangan dan pengalaman hidup sendiri. Ia percaya, setiap pertanyaan adalah bentuk keberanian, dan setiap perbedaan pendapat adalah tanda kehidupan intelektual. Dengan cara ini, ia membangun generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga kritis, berani, dan berempati.
Lebih dari sekadar teori, perjuangan Dr. Iswadi juga menyentuh wilayah nyata masyarakat. Ia aktif turun ke lapangan mengunjungi sekolah sekolah berdialog dengan guru guru serta membantu membangun program pendidikan berbasis komunitas. Menurutnya, revolusi pendidikan tidak akan lahir dari kebijakan pemerintah semata, melainkan dari gerakan rakyat yang sadar akan pentingnya ilmu sebagai alat pembebasan. Di sana, pendidikan harus berakar pada realitas lokal, berpihak pada rakyat, dan membangun kesadaran kolektif untuk keluar dari belenggu ketertinggalan.
Pemikiran Dr. Iswadi juga menolak keras bentuk-bentuk pendidikan yang menindas secara halus baik melalui sistem nilai, ketimpangan fasilitas, maupun sikap feodal di sekolah. Ia menyebut bahwa setiap kali siswa merasa takut kepada gurunya, atau ketika ilmu digunakan untuk menunjukkan superioritas sosial, maka saat itu pula pendidikan kehilangan jiwanya. Pendidikan sejati, menurutnya, adalah pendidikan yang menumbuhkan rasa percaya diri dan keberanian untuk bertanya, bahkan terhadap otoritas sekalipun.
Dalam konteks Indonesia yang masih bergulat dengan masalah kemiskinan dan ketimpangan, gagasan Dr. Iswadi memiliki makna yang sangat mendalam. Ia menegaskan bahwa ilmu harus berpihak kepada rakyat bahwa pengetahuan tidak boleh hanya dimonopoli oleh segelintir elite, tetapi harus menjadi milik semua orang. Karena itu, ia mendorong terbentuknya sistem pendidikan yang inklusif, adil, dan memerdekakan, di mana setiap anak, tanpa memandang latar belakang, memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang.
Warisan pemikiran Dr. Iswadi bukan hanya tentang teori pendidikan, melainkan juga tentang moralitas pengetahuan. Ia mengajarkan bahwa menjadi berilmu berarti siap memikul tanggung jawab sosial. Bahwa seorang intelektual sejati tidak boleh diam di hadapan ketidakadilan. Dalam setiap lembar tulisannya, dalam setiap kalimat yang ia sampaikan di ruang kuliah, selalu ada pesan yang menggugah: Ilmu yang tidak membebaskan adalah ilmu yang belum selesai.
Kini, di tengah dunia yang serba digital dan serba cepat, pesan Dr. Iswadi terasa semakin relevan. Di saat banyak orang terjebak dalam pengetahuan instan, ia mengingatkan pentingnya berpikir mendalam dan kritis. Di saat pendidikan semakin dikomersialisasi, ia menyerukan kembalinya pendidikan pada hakikat kemanusiaan.
Melalui pemikiran dan perjuangannya, Dr. Iswadi telah menunjukkan bahwa perlawanan tidak selalu harus dilakukan dengan senjata atau kekuasaan. Ia memilih untuk melawan dengan ilmu, dengan gagasan yang tajam, dengan dedikasi yang tak tergoyahkan terhadap nilai nilai kemanusiaan. Dan di sanalah letak kehebatannya menjadi pahlawan dalam arti yang paling murni: membebaskan manusia melalui kekuatan pengetahuan.##











