Jakarta : Indonesia Emas tidak lahir dari podium megah, gedung tinggi, atau perayaan besar. Ia tumbuh perlahan dari tempat yang sering luput dari perhatian: ruang kelas. Di sana, di antara papan tulis yang mulai pudar dan bangku kayu yang berderit, masa depan bangsa disusun butir demi butir. Dan di sinilah gagasan Dr. Iswadi menemukan maknanya sebuah reformasi pendidikan yang tidak hanya mengubah sistem, tetapi mengubah cara kita memandang manusia.
Setiap pagi, Dr. Iswadi selalu memulai harinya dengan satu kepercayaan: bahwa setiap anak memiliki potensi yang tidak boleh dibatasi oleh keadaan. Ia sering berkata,
Jika Indonesia ingin menjadi negara besar, maka mulailah dengan memperlakukan setiap anak sebagai manusia, bukan angka.
Kalimat sederhana yang tampak biasa, namun sesungguhnya radikal dalam konteks pendidikan kita.
Di banyak tempat, pendidikan masih dipandang sebagai ajang perlombaan nilai, bukan perjalanan menemukan diri. Anak anak seolah dipaksa masuk ke dalam satu cetakan yang sama: harus menghafal rumus, harus mengingat definisi, harus lulus ujian. Di tengah kenyataan itulah Dr. Iswadi menanamkan idenya tentang pendidikan yang adil dan membebaskan dua kata yang menjadi nyala reformasinya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, pendidikan yang adil tidak selalu berarti semua orang mendapatkan hal yang sama. Bagi Dr. Iswadi, keadilan berarti setiap anak mendapat apa yang ia butuhkan untuk tumbuh. Anak yang tinggal di pedalaman harus memiliki peluang yang sama besarnya dengan anak di kota besar. Guru di pulau terluar harus memiliki akses pelatihan yang setara dengan guru di pusat kota. Sekolah miskin harus mendapat dukungan yang memungkinkan mereka berkembang, bukan sekadar bertahan.
Tapi Dr. Iswadi tidak berhenti pada keadilan. Ia menambahkan satu kata yang lebih dalam: membebaskan . Pendidikan yang membebaskan, baginya, bukan sekadar membuat anak pintar, tetapi membuat mereka mampu memilih, bertanya, meragukan, dan bermimpi. Ia selalu menolak gagasan bahwa sekolah adalah tempat untuk menghafal.
Sekolah yang baik, katanya, adalah yang memberi keberanian pada anak untuk bertanya: mengapa dunia seperti ini, dan bagaimana aku bisa mengubahnya?’
Narasi reformasi yang ia bawa menyentuh tiga ranah utama: guru, kurikulum, dan ekosistem belajar. Pada guru, Dr. Iswadi menekankan perubahan cara pandang: guru bukan hanya penyampai materi, tetapi pembangun ruang aman bagi anak untuk bereksplorasi. Guru adalah pendamping yang menyalakan lampu, bukan penjaga yang mematikan peluang. Ia sering mengadakan diskusi dengan para pendidik, mengajak mereka memahami bahwa peran mereka bukan mencetak murid seragam, tetapi membesarkan individu dengan karakter dan potensi unik.
Pada sisi kurikulum, ia mengusulkan model pembelajaran yang fleksibel, kontekstual, dan relevan. Anak di daerah pesisir harus belajar tentang laut sebagai sumber kehidupan; anak di desa agraris harus mempelajari tanah, pertanian, dan kewirausahaan lokal. Bagi Dr. Iswadi, local wisdom bukan hiasan, tetapi sumber kekuatan. Indonesia Emas tidak boleh terputus dari akar, ucapnya. Kurikulum yang membebaskan, menurutnya, adalah kurikulum yang membuat anak mengenal dunia sekaligus mencintai tanah kelahirannya.
Sedangkan untuk ekosistem belajar, Dr. Iswadi menolak anggapan bahwa pendidikan hanya terjadi di sekolah. Baginya, belajar adalah proses yang berlangsung di rumah, di masyarakat, di alam, bahkan di kesunyian. Sekolah hanyalah titik awal. Ia mendorong kolaborasi antara orang tua, komunitas, lembaga budaya, dan teknologi. Lingkungan harus menjadi ruang yang mendukung perkembangan anak, bukan membatasinya.
Masyarakat yang baik, katanya, adalah yang menjadikan pendidikan sebagai urusan bersama, bukan urusan sekolah semata.”
Kini, mimpi Indonesia Emas semakin sering digaungkan. Namun bagi Dr. Iswadi, mimpi itu akan tetap menjadi slogan kosong bila ruang kelas tidak berubah. Indonesia tidak akan menjadi bangsa besar jika sekolahnya masih dipenuhi ketakutan, tekanan, dan ketimpangan. Ia percaya bahwa masa depan Indonesia ditentukan bukan oleh bangunan megah, tetapi oleh bagaimana generasi mudanya belajar.
Ruang kelas, menurut Dr. Iswadi, adalah titik pertama sebuah revolusi senyap. Di sanalah anak anak belajar mengenal diri, menemukan suara mereka, dan menata masa depan. Jika ruang kelas berhasil menjadi tempat yang adil dan membebaskan, maka jalan menuju Indonesia Emas akan terbuka lebar.
Pada akhirnya, reformasi pendidikan ala Dr. Iswadi bukanlah tentang membuat sistem sempurna, tetapi tentang membuat manusia merdeka. Sebab bangsa besar hanya dapat dibangun oleh manusia-manusia yang berani berpikir dan berani bermimpi. Dan mimpi itu, seperti yang selalu ia katakan, dimulai dari ruang kelas.##











