Jakarta : Di tengah arus perubahan global yang begitu cepat, pendidikan sering kali terjebak pada rutinitas administratif dan target-target angka yang kian menjauh dari hakikat memanusiakan manusia. Pada situasi inilah hadir sosok Dr. Iswadi, seorang pendidik dan pemikir yang dengan ketenangan sikap dan ketegasan prinsipnya, mengukir jejak keteladanan dalam dunia pendidikan. Ia bukan hanya berbicara tentang konsep, tetapi menghadirkan praktik nyata yang menegaskan bahwa pendidikan sejatinya adalah ruang pembebasan, ruang yang memungkinkan setiap anak tumbuh menjadi manusia seutuhnya merdeka berpikir, merdeka berkarya, dan merdeka memaknai hidup.
Sejak awal perjalanannya, Dr. Iswadi menyadari bahwa perubahan besar tidak mungkin lahir dari kelas kelas yang hanya berfokus pada hafalan, instruksi satu arah, atau kurikulum yang kering dari nilai dan konteks. Ia memilih jalan yang mungkin tidak selalu paling mudah, namun paling bermakna: membangun pendidikan yang mampu membuka daya pikir dan daya cipta peserta didik. Baginya, pendidikan yang ideal bukanlah pendidikan yang memaksa anak untuk mengejar standar, melainkan pendidikan yang memberi ruang seluas luasnya agar standar baru dapat mereka ciptakan sendiri.
Salah satu gagasan inti Dr. Iswadi adalah konsep pendidikan yang membebaskan, yang ia angkat dari refleksi panjang terhadap realitas sosial dan pengalaman empiris di ruang-ruang belajar. Pendidikan pembebas bukan hanya soal metode, tetapi merupakan sikap humanistik yang memandang setiap peserta didik sebagai pribadi yang unik, memiliki potensi, dan layak mendapatkan kesempatan berkembang sesuai ritme dan kecerdasannya masing masing. Dalam bingkai ini, guru bukanlah pusat pengetahuan, melainkan fasilitator yang membimbing, mendorong, dan menginspirasi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Komitmen Dr. Iswadi pada pendidikan pembebas terlihat dari berbagai inisiatif yang ia jalankan, baik melalui penelitian, pengabdian masyarakat, maupun pengembangan program belajar yang berpihak pada anak. Ia selalu menekankan bahwa tugas utama seorang pendidik bukanlah menjadikan siswa tahu segalanya, tetapi membuat mereka mencintai proses belajar. Ketika anak-anak mencintai belajar, maka kreatifitas, inovasi, dan kemandirian tumbuh tanpa harus dipaksa. Inilah fondasi dari Generasi Emas 2045 yang ia cita citakan: generasi yang bukan hanya unggul secara akademik, tetapi matang secara karakter dan kokoh secara moral.
Dalam setiap kesempatan, Dr. Iswadi kerap mengajak para guru dan pemangku kepentingan pendidikan untuk berani keluar dari zona nyaman. Ia mengingatkan bahwa dunia telah berubah, dan pendidikan harus ikut berubah untuk tetap relevan. Namun perubahan itu tidak boleh kehilangan kompas moral. Keteladanan harus tetap menjadi pusat. Sebab pendidikan, pada akhirnya, tidak hanya ditransmisikan melalui pengetahuan, tetapi dipantulkan melalui karakter. Seorang guru yang berintegritas akan membentuk peserta didik yang berintegritas. Seorang pendidik yang jujur, disiplin, dan bertanggung jawab akan melahirkan generasi yang mampu memikul masa depan bangsa.
Jejak keteladanan Dr. Iswadi tercermin pula dari kedekatannya dengan masyarakat. Ia meyakini bahwa pendidikan bukan hanya urusan sekolah, tetapi urusan seluruh ekosistem sosial. Karena itu, ia aktif menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memastikan bahwa pendidikan menjadi gerakan bersama, bukan hanya program pemerintah semata. Dalam setiap perjumpaannya dengan orang tua, tokoh masyarakat, atau pemimpin daerah, ia selalu menekankan bahwa kualitas pendidikan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh kurikulum, tetapi oleh budaya. Budaya membaca, budaya berdiskusi, budaya saling menghormati, budaya mencintai ilmu semua itu adalah bagian tak terpisahkan dari cita-cita besar menuju Indonesia Emas 2045.
Melihat perjalanan dan dedikasi Dr. Iswadi, tampak jelas bahwa ia bukan sekadar pendidik, melainkan pemimpin moral yang memahami bahwa perubahan sejati berawal dari ketulusan dan keberanian. Keteladanannya adalah pesan bahwa untuk mencetak generasi unggul, kita harus memulai dari diri sendiri: dari cara berpikir, bersikap, dan berperilaku. Ia menjadi bukti bahwa satu pribadi yang konsisten dapat mempengaruhi banyak orang, menggerakkan perubahan, dan memberi harapan pada masa depan bangsa.
Pada akhirnya, gagasan pendidikan pembebas yang diperjuangkan Dr. Iswadi bukan hanya untuk masa kini, tetapi untuk mengawal Indonesia memasuki gerbang 2045 dengan kepala tegak. Generasi emas yang ia impikan bukanlah generasi yang sekadar kompeten, tetapi generasi yang berkarakter kuat, berdaya cipta tinggi, dan memegang teguh nilai kemanusiaan. Dengan keteladanannya, Dr. Iswadi telah menanam benih perubahan itu benih yang kelak tumbuh menjadi pohon besar tempat bangsa ini berteduh.##











