Dr. Iswadi: Stop Bebani Guru dengan Administrasi Jika Indonesia Emas Ingin Terwujud

- Jurnalis

Rabu, 19 November 2025 - 05:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_131072

Oplus_131072

Jakarta : Dr. Iswadi menegaskan sebuah pesan penting yang kerap terabaikan: masa depan pendidikan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kurikulum yang terus diperbarui, tetapi juga oleh kemampuan negara dalam memastikan guru dapat menjalankan tugas utamanya mendidik, bukan mengeksekusi tumpukan administrasi. Pernyataan ini bukan sekadar kritik, tetapi sebuah alarm keras bahwa visi Indonesia Emas 2045 bisa runtuh apabila ekosistem pendidikan tidak segera diperbaiki dari akarnya.

Menurut Dr. Iswadi, setiap kebijakan kurikulum yang dirancang seharusnya berorientasi pada peningkatan kualitas pembelajaran dan pengalaman belajar siswa. Namun kenyataannya, implementasi kebijakan sering kali membuat guru justru terjebak dalam rutinitas administratif yang menyita waktu, energi, dan fokus mereka. Formulir, laporan, asesmen berlapis, hingga kewajiban unggah dokumen digital semuanya seolah menjadi beban tambahan yang tidak selaras dengan kebutuhan di kelas. Guru bukan sekretaris. Guru adalah pendidik, tegasnya.

Ia menggambarkan realitas di lapangan: banyak guru yang menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar laptop dibandingkan di hadapan murid. Seharusnya, waktu guru digunakan untuk menyiapkan pembelajaran kreatif, memperhatikan perkembangan siswa, dan merancang pendekatan yang sesuai dengan karakter kelas. Namun kini, mereka justru sibuk mengejar tenggat pelaporan yang terus menumpuk. Dalam kondisi seperti ini, harapan untuk melahirkan generasi unggul sangat sulit terwujud.

ADVERTISEMENT

paralax

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dr. Iswadi menekankan bahwa kualitas pendidikan tidak diukur dari seberapa rapi laporan yang dibuat guru, melainkan dari interaksi yang bermakna antara guru dan peserta didik. Negara negara dengan sistem pendidikan terbaik dunia memberikan otonomi besar kepada guru, membebaskan mereka dari tugas administratif yang bukan menjadi inti profesi. Di sana, administrasi dibantu oleh tenaga khusus, sementara guru fokus sepenuhnya pada pembelajaran. Indonesia, menurutnya, perlu belajar dari praktik ini.

Ia juga mengingatkan bahwa pencapaian visi Indonesia Emas 2045 memerlukan generasi yang kompeten, kritis, dan kreatif. Namun generasi seperti itu hanya bisa dibentuk oleh guru yang bekerja dengan hati, pikiran, dan waktu yang cukup. Bila tenaga pendidik terus dijejali beban administratif, bagaimana mungkin mereka mampu menghadirkan pembelajaran yang bermutu? Mimpi besar tidak akan terwujud jika fondasinya rapuh. Guru adalah fondasi, ujarnya.

Lebih jauh, Dr. Iswadi mengajak para pembuat kebijakan untuk kembali mempertimbangkan dampak jangka panjang dari beban administrasi yang diterapkan atas nama kurikulum. Administrasi memang penting sebagai alat evaluasi, tetapi harus proporsional. Tidak setiap hal perlu dicatat berulang kali atau diunggah ke berbagai platform. Hal hal yang tidak berdampak langsung pada proses belajar sebaiknya disederhanakan bahkan dihilangkan. Pemerintah, menurutnya, perlu merancang sistem administrasi terpadu yang ringkas, efisien, dan tidak memberatkan.

Selain itu, ia berharap ada perubahan paradigma bahwa guru hanyalah pelaksana kebijakan. Sebaliknya, guru harus diposisikan sebagai mitra strategis yang mengetahui kebutuhan pembelajaran secara nyata di kelas. Suara mereka penting didengar dalam setiap penyusunan regulasi pendidikan. Dr. Iswadi percaya bahwa kebijakan yang lahir dari dialog dengan guru akan jauh lebih efektif dan berdampak.

Pada akhirnya, kritik Dr. Iswadi bukanlah bentuk pesimisme. Sebaliknya, ia menyampaikan optimisme bahwa Indonesia mampu mencapai visi besarnya, asalkan berani memperbaiki aspek aspek mendasar dalam pendidikan. Mengurangi beban administrasi guru adalah langkah awal yang sangat menentukan. Dengan demikian, guru dapat kembali fokus pada hal yang paling mulia: membentuk karakter, kemampuan, dan masa depan generasi bangsa.

Jika Indonesia benar benar ingin mencapai Indonesia Emas 2045, kata Dr. Iswadi, maka langkah pertama adalah sederhana namun penting: berhenti membebani guru dengan tugas administratif yang menguras tenaga. Biarkan guru mengajar. Biarkan mereka mendidik. Karena tanpa guru yang merdeka, masa depan itu hanya akan tinggal impian.##

Berita Terkait

Prof Sutan Nasomal Amerika Mengirimkan Pasukan Ke Gerbang Kematian Sendiri Mengerikan Tantang Kematian Massal!!!
Dr. Iswadi Serukan Penghormatan Nasional atas Wafatnya Teungku Nyak Sandang
Dr. Iswadi: Reshuffle Kabinet Harus Perkuat Integritas dan Teknokrasi, Bukan Sekadar Kompromi Politik
DPP PJS Kumpulkan Pimpinan DPD Se-Indonesia, Bahas Persiapan Final Konstituen Dewan Pers
Dr. Iswadi Tanggapi Isu Reshuffle Kabinet Merah Putih: Momentum Evaluasi dan Penguatan Kinerja Pemerintahan
Ketum SPBI Dr. Iswadi Ajak Masyarakat Jaga Persatuan dan Kepercayaan Publik Menuju Indonesia Stabil dan Maju 2029
Menjaga Marwah Demokrasi: Dr. Iswadi Tolak Narasi Menjatuhkan Pemerintahan di Luar Mekanisme Konstitusi
Menjaga Marwah Demokrasi: Dr. Iswadi Tolak Narasi Menjatuhkan Pemerintahan di Luar Mekanisme Konstitusi

Berita Terkait

Jumat, 10 April 2026 - 06:15 WIB

Prof Sutan Nasomal Amerika Mengirimkan Pasukan Ke Gerbang Kematian Sendiri Mengerikan Tantang Kematian Massal!!!

Kamis, 9 April 2026 - 21:25 WIB

Dr. Iswadi Serukan Penghormatan Nasional atas Wafatnya Teungku Nyak Sandang

Rabu, 8 April 2026 - 07:02 WIB

DPP PJS Kumpulkan Pimpinan DPD Se-Indonesia, Bahas Persiapan Final Konstituen Dewan Pers

Selasa, 7 April 2026 - 21:56 WIB

Dr. Iswadi Tanggapi Isu Reshuffle Kabinet Merah Putih: Momentum Evaluasi dan Penguatan Kinerja Pemerintahan

Selasa, 7 April 2026 - 15:53 WIB

Ketum SPBI Dr. Iswadi Ajak Masyarakat Jaga Persatuan dan Kepercayaan Publik Menuju Indonesia Stabil dan Maju 2029

Berita Terbaru