Jakarta : Tradisi literasi di Indonesia sesungguhnya bukan hal baru. Sejak masa lampau, nenek moyang telah meninggalkan jejak pemikiran dalam bentuk cerita lisan, naskah-naskah kuno, serta karya sastra yang menunjukkan betapa kuatnya budaya membaca dan menulis dalam perjalanan bangsa. Namun, di tengah kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi digital, praktik literasi terutama menulis mulai tergerus oleh pola konsumsi konten instan. Banyak orang hanya berhenti pada aktivitas membaca sepintas, bahkan lebih sering hanya mengonsumsi visual daripada teks. Di sinilah Dr. Iswadi, seorang pegiat literasi sekaligus akademisi, mengajak publik untuk kembali menyadari pentingnya membangun dan menghidupkan tradisi literasi secara menyeluruh.
Dalam wawancara khusus terkait budaya literasi, Dr. Iswadi menyampaikan pesan sederhana namun sarat makna: Membaca itu baik, tetapi menulis lebih baik. Baginya, membaca adalah pintu masuk untuk memperluas wawasan, tetapi menulis adalah proses pengolahan informasi yang membuat seseorang benar-benar memahami apa yang ia pelajari. Menulis mengasah nalar, memperkuat ingatan, dan membantu seseorang menyusun gagasan secara terstruktur. Aktivitas menulis pula yang menjadi bukti bahwa seorang individu bukan hanya konsumen pengetahuan, tetapi juga produsen gagasan.
Dr. Iswadi menekankan bahwa bangsa yang maju adalah bangsa yang masyarakatnya tidak hanya suka membaca, tetapi juga mampu mengekspresikan pikirannya melalui tulisan. Menurutnya, Ketika seseorang menulis, ia sedang menciptakan jejak intelektual. Jejak itulah yang nanti akan dibaca kembali oleh generasi berikutnya. Ia menilai bahwa melemahnya budaya menulis akan berdampak pada tumpulnya daya pikir kritis masyarakat. Tanpa kemampuan merangkai dan mengorganisasi gagasan dalam bentuk tulisan, seseorang cenderung hanya menjadi peniru, bukan pemikir.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lebih jauh, Dr. Iswadi mengajak masyarakat untuk melihat menulis bukan sebagai aktivitas eksklusif yang hanya dilakukan oleh wartawan, akademisi, atau penulis profesional. Menulis adalah kegiatan yang dapat dilakukan oleh siapa pun siswa, orang tua, pekerja, petani, pedagang, bahkan mereka yang tidak terbiasa memegang pena sekalipun. Semua orang memiliki cerita, pengalaman, dan pemikiran yang berharga. Menulis adalah cara untuk mengabadikan semua itu, ujarnya
Ia juga menyoroti bahwa saat ini media digital sebenarnya memberi peluang besar bagi masyarakat untuk mulai menulis. Blog, media sosial, platform opini publik, hingga aplikasi menulis online menyediakan wadah luas bagi siapa pun untuk menuangkan pikiran. Namun sayangnya, potensi itu sering tidak dimanfaatkan secara optimal. Banyak warganet lebih suka berbagi konten pendek atau komentar singkat daripada menulis refleksi mendalam. Di sinilah pentingnya kesadaran baru bahwa menulis bukan sekadar aktivitas menuangkan kata-kata, tetapi sebuah proses pembentukan karakter intelektual.
Dalam pandangan Dr. Iswadi, membangun kembali tradisi literasi harus dimulai dari rumah, sekolah, dan komunitas. Orang tua perlu memberi teladan kepada anak, bukan hanya dengan menyediakan buku, tetapi juga dengan memperlihatkan bahwa mereka sendiri aktif membaca dan menulis. Di sekolah, guru perlu mengubah pola pembelajaran yang selama ini hanya berfokus pada hafalan, menjadi proses yang mendorong siswa untuk banyak menganalisis dan menulis. Komunitas pun dapat menciptakan ruang bagi warganya untuk berdiskusi, berbagi tulisan, dan saling menginspirasi.
Gerakan literasi, menurut Dr. Iswadi, tidak harus selalu berupa kegiatan besar dengan anggaran besar. Hal-hal sederhana seperti membuat jurnal harian, menulis opini pribadi, menulis pengalaman di tempat kerja, atau merangkai ringkasan buku sudah merupakan bentuk nyata dari proses literasi. Ia percaya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Selain itu, Dr. Iswadi mengingatkan bahwa menulis juga memiliki kekuatan spiritual dan emosional. Menulis mampu menjadi sarana penyembuhan, media perenungan, dan jalan untuk memahami diri sendiri. Banyak orang yang merasa lebih tenang setelah menuliskan kegelisahan, lebih jernih setelah menyusun gagasan, dan lebih percaya diri setelah melihat bahwa pikirannya ternyata berharga untuk dibagikan.
Pada akhirnya, ajakan Dr. Iswadi bukan hanya tentang membaca dan menulis sebagai keterampilan, tetapi sebagai kebutuhan hidup. Tradisi literasi harus menjadi bagian dari budaya masyarakat yang dilakukan tanpa paksaan, tetapi lahir dari kesadaran bahwa bangsa yang berpengetahuan luas lahir dari warganya yang aktif berpikir. Jika kita ingin masa depan bangsa cerah, pungkasnya, maka kita harus menjadi masyarakat yang tidak hanya membaca dunia, tetapi juga menulisnya kembali.
Dengan seruan tersebut, Dr. Iswadi berharap lahir lebih banyak penulis, pemikir, dan pembaca kritis di Indonesia mereka yang tidak sekadar mengikuti arus informasi, tetapi mampu memberi makna dan mencipta perubahan melalui tulisan. Sebab, pada akhirnya, tulisan adalah warisan paling berharga yang bisa kita tinggalkan untuk peradaban.##











