Jakarta–Klikindonesia
Dr. Iswadi kembali menegaskan komitmennya terhadap konsep pendidikan pembebasan sebagai fondasi untuk mewujudkan kesejahteraan bangsa. Dalam berbagai kesempatan, ia menekankan bahwa pendidikan seharusnya tidak hanya menjadi proses transfer pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang yang membangkitkan kesadaran, menumbuhkan keberanian berpikir kritis, serta memberdayakan setiap individu untuk memahami realitas sosial dan berperan aktif dalam perubahan. Baginya, pendidikan bukan semata mata urusan akademik, tetapi sebuah gerakan sosial yang mampu menentukan arah masa depan bangsa.
Menurut Dr. Iswadi, banyak persoalan bangsa berakar dari kualitas sumber daya manusia yang belum optimal. Ketimpangan sosial, rendahnya produktivitas, serta minimnya inovasi merupakan gejala dari sistem pendidikan yang masih cenderung mengekang kreativitas. Pendidikan yang hanya menekankan hafalan dan kepatuhan, tanpa memberi ruang bagi peserta didik untuk mempertanyakan dan mengembangkan gagasan, akan menghasilkan generasi yang pasif. Situasi inilah yang ingin ia ubah melalui gagasan pendidikan pembebasan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pendidikan pembebasan yang ia gagas berorientasi pada upaya membangkitkan kesadaran kritis. Ia terinspirasi dari pemikiran tokoh tokoh dunia yang menaruh perhatian pada kebebasan berpikir dalam proses belajar. Bagi Dr. Iswadi, peserta didik bukanlah objek, tetapi subjek pembelajaran yang memiliki pengalaman, potensi, dan kekuatan untuk memahami lingkungan sosialnya. Ketika peserta didik diberi kebebasan untuk bertanya, berdiskusi, serta mengkaji persoalan nyata di sekitarnya, pendidikan akan menjadi proses yang hidup dan relevan.
Dalam penjelasannya, ia menekankan bahwa pendidikan pembebasan bukan berarti kebebasan tanpa arah atau tanpa nilai. Sebaliknya, kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan yang terarah pada pembentukan karakter, penyadaran diri, dan kemampuan memecahkan masalah. Ia menyadari bahwa dunia modern bergerak sangat cepat, sehingga generasi masa depan membutuhkan kemampuan adaptasi dan kreativitas yang kuat. Melalui pendidikan yang membebaskan, peserta didik dapat tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, inovatif, dan mampu memberi kontribusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
Dr. Iswadi juga menyoroti pentingnya peran guru dalam mewujudkan pendidikan pembebasan. Guru, menurutnya, bukan sekadar penyampai materi, tetapi fasilitator pembelajaran yang mampu menginspirasi dan membuka ruang dialog. Guru perlu hadir sebagai mitra berpikir bagi peserta didik, bukan sebagai otoritas tunggal yang menentukan benar atau salah. Dengan cara itulah, hubungan antara guru dan peserta didik dapat berubah menjadi hubungan yang lebih humanis dan memerdekakan.
Selain itu, ia menekankan perlunya lingkungan sekolah yang mendukung kebebasan berekspresi dan keberagaman gagasan. Sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman bagi peserta didik untuk bereksperimen, berkreasi, dan mengembangkan bakat mereka. Menurut Dr. Iswadi, pendidikan yang membebaskan hanya dapat terwujud ketika sekolah tidak lagi mengekang kreativitas melalui aturan yang terlalu kaku, tetapi justru memberi ruang bagi pembelajaran yang fleksibel, kontekstual, dan menyenangkan.
Dalam konteks pembangunan bangsa, Dr. Iswadi percaya bahwa pendidikan pembebasan akan melahirkan sumber daya manusia yang bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara moral dan sosial. Generasi inilah yang akan mampu menjawab tantangan global, memecahkan persoalan lokal, serta menciptakan inovasi yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Ia meyakini bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang pendidikannya menumbuhkan manusia manusia merdeka manusia yang sadar akan tanggung jawabnya, peka terhadap realitas sosial, dan berani mengambil peran dalam perubahan.
Komitmen Dr. Iswadi terhadap pendidikan pembebasan bukan sekadar wacana, tetapi menjadi arah perjuangan yang ingin ia wujudkan melalui berbagai program dan gerakan pendidikan. Ia terus mendorong terciptanya kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat agar cita cita tersebut dapat terwujud secara nyata. Baginya, keberhasilan pendidikan bukan hanya diukur dari nilai ujian atau peringkat sekolah, melainkan dari sejauh mana pendidikan mampu membentuk manusia yang berdaya dan mampu meningkatkan kualitas hidupnya.
Di akhir penegasannya, Dr. Iswadi menyampaikan bahwa masa depan bangsa ditentukan oleh bagaimana kita memperlakukan pendidikan hari ini. Jika pendidikan terus dibiarkan bersifat mengekang dan tidak relevan, maka kita akan kehilangan kesempatan untuk membangun bangsa yang kuat. Namun, jika pendidikan diarahkan pada pembebasan membangun kesadaran dan memberdayakan manusia maka kesejahteraan bangsa bukanlah mimpi, melainkan sebuah keniscayaan. Melalui pendidikan pembebasan, Dr. Iswadi percaya bahwa Indonesia dapat melahirkan generasi emas yang mampu membawa bangsa menuju masa depan yang lebih cerah dan sejahtera.##











