Menjadi Dosen yang Dirindukan Mahasiswa

- Jurnalis

Minggu, 30 November 2025 - 07:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis: Dr. Iswadi, M.Pd. Dosen Universitas Esa Unggul Jakarta

Opini : Menjadi dosen bukan sekadar menjalankan profesi, melainkan juga menjalankan amanah untuk membimbing, mengarahkan, dan membantu mahasiswa menemukan potensi terbaik mereka. Dalam peran ini, seorang dosen tidak hanya menjadi penyampai materi, tetapi juga pembuka jalan, penuntun nilai, serta teladan dalam sikap dan karakter. Namun, terdapat satu dimensi lain yang sering kali terlupakan, yaitu bagaimana menjadi dosen yang dirindukan mahasiswa dosen yang kehadirannya dinantikan, nasihatnya dicari, dan pelajarannya dikenang jauh setelah mahasiswa lulus kelak.

Setiap awal semester, saya selalu kembali merenungkan perjalanan panjang dalam dunia pendidikan tinggi. Ada pertemuan pertemuan yang menyisakan kesan mendalam, ada pula sesi kelas yang terasa hambar. Dari semua pengalaman tersebut saya menyadari bahwa kerinduan mahasiswa terhadap dosennya bukan lahir dari seberapa tinggi gelar yang disandang, seberapa banyak karya ilmiah yang ditulis, atau seberapa keras dosen menegakkan kedisiplinan. Kerinduan itu muncul dari keterhubungan connection yang terbangun antara dosen dan mahasiswa dalam proses belajar.

ADVERTISEMENT

paralax

SCROLL TO RESUME CONTENT

Keterhubungan itu mulai tumbuh sejak seorang dosen mampu menempatkan dirinya sebagai manusia yang juga sedang belajar. Saya selalu mengatakan kepada mahasiswa bahwa saya berada di kelas bukan sebagai yang paling tahu, tetapi sebagai orang yang lebih dulu menapaki jalan yang akan mereka lalui. Dari sana, suasana belajar menjadi lebih egaliter. Mahasiswa tidak lagi melihat saya sebagai figur yang menakutkan, tetapi sebagai mitra akademik yang dapat dipercaya.

Menjadi dosen yang dirindukan mahasiswa berarti hadir bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional dan intelektual. Mahasiswa merasakan kehadiran itu ketika dosennya menunjukkan empati: memahami tantangan mereka, mendengarkan keluhan mereka, dan merayakan pencapaian kecil mereka. Di dalam kelas, empati bisa terwujud dari hal sesederhana mengingat nama mahasiswa, memberi ruang bagi mereka untuk mengemukakan pendapat, atau mendukung mereka yang sedang menghadapi kesulitan akademik maupun personal. Hal kecil seperti itu sering kali memiliki dampak besar yang tidak kita sadari.

Saya teringat satu mahasiswa yang suatu hari datang ke ruang kelas dengan wajah lesu. Ia berkata bahwa ia sedang berada pada titik jenuh dan mempertimbangkan untuk berhenti kuliah. Kami berbicara cukup lama. Saya mendengarkan lebih banyak daripada memberi nasihat. Setelah percakapan itu, ia kembali bersemangat dan kini telah bekerja di salah satu perusahaan ternama. Beberapa tahun setelah lulus, ia mengirimkan pesan terima kasih, mengatakan bahwa momen percakapan singkat itu mengubah arah hidupnya. Saat membaca pesan itu, saya kembali disadarkan bahwa tugas dosen tidak berhenti pada penyampaian teori, tetapi juga pada kemampuan memahami manusia di balik peran mahasiswa.

Selain empati, mahasiswa merindukan dosennya ketika dosen tersebut menghadirkan pembelajaran yang bermakna. Di era digital seperti sekarang, mahasiswa dapat menemukan teori apa pun di internet hanya dengan sekali klik. Maka tugas kita bukan lagi memenuhi kelas dengan tumpukan slide, tetapi menghidupkan teori teori itu melalui contoh nyata, diskusi kritis, studi kasus, proyek kolaboratif, dan pengalaman yang relevan. Mahasiswa ingin belajar sesuatu yang membuat mereka merasa lebih siap menghadapi dunia nyata. Mereka merindukan dosen yang mampu memberi mereka insight, bukan sekadar informasi.

Bagi saya, salah satu kunci penting dalam menghadirkan pembelajaran bermakna adalah membangun kelas yang dialogis. Saya selalu mendorong mahasiswa untuk bertanya, menyanggah, atau bahkan tidak setuju dengan saya tentu dengan cara yang santun dan argumentatif. Ketika kelas menjadi ruang aman untuk berpikir kritis, mahasiswa tidak lagi hadir karena takut atau terpaksa, tetapi karena mereka merasa dihargai. Saat itulah proses belajar menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus mendalam.

Namun, menjadi dosen yang dirindukan mahasiswa juga berarti menjadi pribadi yang konsisten. Konsistensi ini mencakup kedisiplinan, keadilan dalam penilaian, kejelasan dalam aturan kelas, serta keteguhan dalam nilai nilai akademik. Mahasiswa mungkin sesekali mengeluh bila diberi tugas atau bila saya bersikap tegas mengenai plagiarisme, tetapi pada akhirnya mereka memahami bahwa ketegasan itulah bentuk kepedulian. Mereka akan mengingat dosen yang menjaga standar, karena standar itulah yang mempersiapkan mereka menghadapi dunia profesional yang penuh tuntutan.

Kerinduan mahasiswa juga tumbuh dari keteladanan. Apa yang kita sampaikan di kelas tidak akan berarti jika berbanding terbalik dengan perilaku kita sehari hari. Ketika dosen menunjukkan integritas, kesederhanaan, kerendahan hati, dan etos kerja yang kuat, mahasiswa belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Dalam banyak kesempatan, mahasiswa saya mengatakan bahwa pelajaran yang paling berkesan bukan berasal dari materi yang saya ajarkan, tetapi dari sikap saya ketika menghadapi tekanan, menyambut kritik, atau mengakui kesalahan.

Akhirnya, menjadi dosen yang dirindukan mahasiswa bukan tujuan yang dicapai sekali, tetapi proses yang berlangsung sepanjang perjalanan kita sebagai pendidik. Ia menuntut ketulusan, kesabaran, dan kerendahan hati untuk terus belajar dan beradaptasi. Ketika kita mengajar dengan hati, mahasiswa akan merasakannya. Ketika kita peduli pada masa depan mereka, mereka akan menghargainya. Dan ketika kita hadir bukan hanya sebagai pengajar tetapi juga sebagai manusia yang menemani langkah mereka, kerinduan itu tumbuh dengan sendirinya.

Pada akhirnya, kerinduan mahasiswa adalah cerminan dari cinta kita pada profesi ini. Seorang dosen mungkin dilupakan materinya, tetapi tidak akan pernah dilupakan ketulusannya. Dan jika suatu hari, di tengah kesibukan pekerjaan mereka, para mahasiswa teringat pada kita dengan senyum kecil, maka itulah hadiah paling indah dari perjalanan seorang pendidik. ##

Berita Terkait

Prof Sutan Nasomal Amerika Mengirimkan Pasukan Ke Gerbang Kematian Sendiri Mengerikan Tantang Kematian Massal!!!
Dr. Iswadi Serukan Penghormatan Nasional atas Wafatnya Teungku Nyak Sandang
Dr. Iswadi: Reshuffle Kabinet Harus Perkuat Integritas dan Teknokrasi, Bukan Sekadar Kompromi Politik
DPP PJS Kumpulkan Pimpinan DPD Se-Indonesia, Bahas Persiapan Final Konstituen Dewan Pers
Dr. Iswadi Tanggapi Isu Reshuffle Kabinet Merah Putih: Momentum Evaluasi dan Penguatan Kinerja Pemerintahan
Ketum SPBI Dr. Iswadi Ajak Masyarakat Jaga Persatuan dan Kepercayaan Publik Menuju Indonesia Stabil dan Maju 2029
Menjaga Marwah Demokrasi: Dr. Iswadi Tolak Narasi Menjatuhkan Pemerintahan di Luar Mekanisme Konstitusi
Menjaga Marwah Demokrasi: Dr. Iswadi Tolak Narasi Menjatuhkan Pemerintahan di Luar Mekanisme Konstitusi

Berita Terkait

Jumat, 10 April 2026 - 06:15 WIB

Prof Sutan Nasomal Amerika Mengirimkan Pasukan Ke Gerbang Kematian Sendiri Mengerikan Tantang Kematian Massal!!!

Kamis, 9 April 2026 - 21:25 WIB

Dr. Iswadi Serukan Penghormatan Nasional atas Wafatnya Teungku Nyak Sandang

Rabu, 8 April 2026 - 07:02 WIB

DPP PJS Kumpulkan Pimpinan DPD Se-Indonesia, Bahas Persiapan Final Konstituen Dewan Pers

Selasa, 7 April 2026 - 21:56 WIB

Dr. Iswadi Tanggapi Isu Reshuffle Kabinet Merah Putih: Momentum Evaluasi dan Penguatan Kinerja Pemerintahan

Selasa, 7 April 2026 - 15:53 WIB

Ketum SPBI Dr. Iswadi Ajak Masyarakat Jaga Persatuan dan Kepercayaan Publik Menuju Indonesia Stabil dan Maju 2029

Berita Terbaru