Klikindonesia – Jakarta : Bencana banjir, lumpur, dan longsor yang kembali melanda Aceh dan beberapa wilayah di Sumatra menjadi peristiwa memilukan yang meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat. Rumah rumah terendam, akses jalan terputus, fasilitas umum lumpuh, sementara ribuan warga harus mengungsi dengan segala keterbatasan. Di tengah kondisi tersebut, suara kepedulian kembali muncul dari berbagai tokoh dan pemerhati lingkungan, salah satunya dari Ketua Umum Solidaritas Pemersatu Bangsa Indonesia (SPBI) Dr. Iswadi, M.Pd , yang menyerukan agar dunia internasional turut memberikan perhatian dan bantuan kemanusiaan bagi para korban.
Dalam pernyataannya, Dr. Iswadi menegaskan bahwa bencana ekologis yang terjadi di Aceh bukan hanya persoalan lokal atau nasional, tetapi juga mencerminkan kondisi lingkungan global yang semakin rentan. Menurutnya, perubahan iklim, degradasi lahan, dan kerusakan lingkungan yang berlangsung bertahun tahun telah memperbesar risiko bencana alam di banyak negara, termasuk Indonesia. Karena itu, ia memandang bahwa solidaritas internasional bukan hanya wajar, tetapi juga menjadi keharusan kemanusiaan.
Ia menyoroti bahwa banyak daerah terdampak di Aceh kini sedang berjuang menghadapi keterbatasan logistik. Para pengungsi memerlukan tempat tinggal sementara yang layak, air bersih, layanan kesehatan, serta pasokan makanan yang cukup. Di tengah kondisi darurat tersebut, Dr. Iswadi mengharapkan agar para pemerhati lingkungan dunia, lembaga internasional, dan organisasi kemanusiaan global ikut serta mempercepat proses pertolongan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam pandangannya, perhatian dunia internasional tidak hanya dibutuhkan dalam bentuk bantuan logistik, tetapi juga dukungan teknis. Para ahli mitigasi bencana, peneliti lingkungan, serta lembaga yang berpengalaman dalam respons darurat dapat membantu meningkatkan efektivitas penanganan di lapangan. Bencana seperti ini membuka mata kita semua bahwa kerja sama global dalam menghadapi perubahan iklim dan penurunan kualitas lingkungan harus menjadi prioritas bersama, tegasnya.
Dr. Iswadi menambahkan bahwa Aceh dan Sumatra memiliki kekayaan alam yang luas, termasuk hutan, sungai, dan kawasan pesisir yang harus dijaga. Namun, kawasan tersebut juga rentan terhadap perubahan cuaca ekstrem, curah hujan tinggi, serta pergeseran pola iklim yang telah tercatat dalam beberapa tahun terakhir. Ia menilai bahwa kondisi geografis Aceh yang dikelilingi pegunungan dan aliran sungai besar membuat wilayah ini semakin rawan terdampak banjir dan longsor jika langkah pencegahan tidak dilakukan secara komprehensif.
Melalui seruannya, Dr. Iswadi berharap dunia internasional melihat bencana ini bukan hanya sebagai musibah lokal, tetapi sebagai panggilan kemanusiaan. Ia percaya bahwa kolaborasi dengan komunitas global dapat mempercepat pemulihan, memulihkan harapan warga terdampak, dan mencegah terjadinya bencana serupa di masa mendatang. Dalam konteks yang lebih luas, ia mengajak berbagai pihak untuk tidak hanya hadir saat terjadi bencana, tetapi juga ikut mendukung upaya rehabilitasi lingkungan, penguatan sistem peringatan dini, serta pembangunan infrastruktur yang lebih tahan bencana.
Selain itu, Dr. Iswadi menekankan pentingnya literasi dan pendidikan lingkungan bagi masyarakat. Ia yakin bahwa kesadaran kolektif mengenai pentingnya menjaga kelestarian alam dapat mengurangi risiko bencana di kemudian hari. Menurutnya, dunia pendidikan, lembaga masyarakat, serta organisasi lingkungan harus bersinergi dalam membangun budaya peduli lingkungan sejak dini. “Kita tidak bisa menunggu bencana besar berikutnya untuk bertindak. Langkah preventif harus dimulai sekarang, dan dunia internasional harus melihat Aceh sebagai contoh nyata bahwa perubahan iklim bukan isu abstrak, tetapi kenyataan sehari-hari,” ujarnya.
Dalam penutup pesannya, Dr. Iswadi mengajak semua pihak baik nasional maupun internasional untuk mengulurkan tangan, menyatukan hati, dan membantu masyarakat Aceh yang sedang berjuang bangkit dari keterpurukan. Ia percaya bahwa kepedulian global dapat menjadi cahaya harapan bagi para korban, sekaligus mendorong terciptanya kerja sama lingkungan yang lebih kuat di masa depan.##











