Jakarta : Pendidikan adalah peta yang menuntun peradaban menuju masa depan. Namun, di tengah derasnya arus perubahan global, peta itu tampak kabur dan kompasnya seolah kehilangan arah. Dunia pendidikan kini berada di persimpangan jalan: antara mempertahankan tradisi lama yang sudah usang, atau berani melangkah ke arah baru yang lebih relevan dengan kebutuhan zaman. Dalam konteks inilah, gagasan pendidikan Dr. Iswadi hadir sebagai cahaya penuntun sebuah pandangan visioner yang menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar proses mentransfer pengetahuan, melainkan perjuangan membentuk manusia seutuhnya.
Dr. Iswadi melihat bahwa krisis utama pendidikan hari ini bukan terletak pada kurangnya fasilitas, rendahnya anggaran, atau lemahnya kebijakan semata. Krisis yang paling mendasar adalah hilangnya arah dan makna. Pendidikan telah terjebak dalam rutinitas administratif dan orientasi hasil jangka pendek. Sekolah menjadi tempat mengejar nilai, bukan tempat menumbuhkan nilai. Guru tertekan oleh target kurikulum, sementara peserta didik kehilangan rasa ingin tahu. Dalam situasi seperti ini, pendidikan berjalan, tetapi tidak benar-benar bergerak menuju kemajuan manusia.
Melalui pandangannya, Dr. Iswadi mengajak kita untuk meninjau kembali hakikat pendidikan. Ia menegaskan bahwa tujuan pendidikan sejati adalah memanusiakan manusia Artinya, pendidikan harus mampu mengembangkan potensi individu baik intelektual, emosional, spiritual, maupun sosial agar mereka dapat hidup bermakna di tengah masyarakat. Pendidikan bukan pabrik tenaga kerja, melainkan taman tempat tumbuhnya manusia yang berpikir, berempati, dan berintegritas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam pandangan Dr. Iswadi, pendidikan di era perubahan harus berani meninggalkan pola lama yang kaku dan seragam. Dunia telah berubah: teknologi berkembang pesat, informasi berlimpah, dan tantangan global semakin kompleks. Maka, pendidikan pun harus adaptif. Guru tidak lagi cukup berperan sebagai sumber pengetahuan, melainkan fasilitator yang membimbing siswa menemukan dan mengolah pengetahuan sendiri. Pembelajaran tidak harus selalu terjadi di ruang kelas, tetapi bisa berlangsung di mana saja selama ada interaksi, refleksi, dan makna.
Lebih jauh, Dr. Iswadi menekankan pentingnya pendidikan yang berakar pada nilai nilai kemanusiaan dan budaya bangsa. Modernisasi pendidikan tidak berarti meniru mentah-mentah sistem luar negeri, melainkan menyesuaikan dengan konteks sosial dan moral masyarakat Indonesia. Dalam hal ini, ia mengingatkan bahwa globalisasi seharusnya tidak mencabut akar lokalitas, tetapi justru memperkaya identitas bangsa. Pendidikan ideal bagi Indonesia, menurutnya, adalah pendidikan yang menggabungkan daya pikir global dengan hati nurani lokal.
Salah satu gagasan penting Dr. Iswadi adalah perlunya reorientasi paradigma pendidikan. Selama ini, banyak sistem pendidikan menempatkan aspek kognitif di atas segalanya, seolah keberhasilan belajar diukur dari skor ujian. Ia menolak pandangan sempit ini. Bagi Dr. Iswadi, pendidikan harus menumbuhkan kecerdasan moral dan karakter. Tanpa itu, ilmu hanya akan melahirkan kecerdasan tanpa kebijaksanaan otak yang cerdas, tetapi hati yang beku. Pendidikan yang ideal adalah yang mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan nilai nilai etika dan kemanusiaan.
Selain itu, Dr. Iswadi menyoroti pentingnya kemandirian dalam belajar Di era digital, siswa memiliki akses tak terbatas terhadap informasi. Namun, tanpa kemampuan berpikir kritis, mereka mudah tersesat di tengah lautan data. Karena itu, pendidikan harus membekali peserta didik dengan kemampuan memilah, menilai, dan mengolah informasi secara bijak. Guru perlu mengajarkan bagaimana belajar, bukan hanya apa yang harus dipelajari. Dengan begitu, peserta didik dapat menjadi pembelajar sepanjang hayat mampu beradaptasi dan terus tumbuh di tengah perubahan zaman.
Dr. Iswadi juga menekankan peran penting guru sebagai teladan moral. Di tengah degradasi etika dan budaya instan, guru harus menjadi sosok yang menginspirasi, bukan hanya menginstruksi. Keteladanan, kejujuran, dan kasih sayang adalah inti dari pendidikan sejati. Pendidikan yang kehilangan sentuhan hati akan melahirkan generasi yang pintar tetapi hampa. Karena itu, pembaruan pendidikan tidak cukup dilakukan melalui kurikulum dan teknologi; ia harus dimulai dari hati dari kemurnian niat para pendidik untuk membimbing dengan cinta.
Pandangan visioner Dr. Iswadi menjadi semacam kompas bagi dunia pendidikan yang sedang tersesat arah. Ia mengingatkan bahwa teknologi, kurikulum, dan kebijakan hanyalah alat; yang terpenting adalah manusia di baliknya. Pendidikan sejati harus mengembalikan orientasi kepada nilai nilai kemanusiaan, menjadikan belajar sebagai proses menemukan makna hidup, dan menjadikan sekolah sebagai ruang tumbuhnya karakter.
Kini, di era perubahan yang serba cepat, gagasan Dr. Iswadi menjadi semakin relevan. Ketika dunia sibuk mengejar efisiensi dan kompetisi, kita membutuhkan pendidikan yang mengajarkan empati dan kolaborasi. Ketika masyarakat terbelah oleh perbedaan, kita membutuhkan pendidikan yang menumbuhkan kebersamaan dan toleransi. Pendidikan bukan sekadar alat untuk mencari pekerjaan, tetapi jembatan menuju peradaban yang lebih manusiawi.
Dengan demikian, mencari kompas pendidikan berarti kembali pada esensi: menjadikan manusia sebagai pusat dari seluruh proses pendidikan. Dan di tengah kebingungan arah itu, pandangan visioner Dr. Iswadi memberi kita keyakinan bahwa pendidikan, bila dijalankan dengan hati dan kesadaran, tetap menjadi jalan terbaik untuk menuntun bangsa menuju masa depan yang bermartabat.##











