Pendidikan sebagai Perlawanan: Jejak Pemikiran Dr. Iswadi dalam Membangun Kesadaran

- Jurnalis

Rabu, 12 November 2025 - 22:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_131072

Oplus_131072

Jakarta : Dalam sejarah panjang perjuangan bangsa, perlawanan tidak selalu hadir dalam bentuk peperangan fisik atau pertumpahan darah. Ada pula perlawanan yang dilakukan melalui jalan sunyi melalui gagasan, pena, dan ketekunan mendidik. Sosok Dr. Iswadi adalah salah satu tokoh yang menempuh jalan itu. Ia menjadikan pendidikan sebagai bentuk perlawanan terhadap kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan sosial. Melalui pemikiran dan keteladanannya, Dr. Iswadi menunjukkan bahwa pendidikan sejati bukan sekadar alat mobilitas sosial, melainkan sarana membangun kesadaran dan memerdekakan manusia.

Bagi Dr. Iswadi, kebodohan adalah bentuk penindasan paling halus. Masyarakat yang tidak berpendidikan mudah dibentuk, diarahkan, bahkan dimanfaatkan oleh mereka yang berkuasa. Ia menyadari bahwa kebodohan bukan sekadar akibat dari kurangnya akses belajar, melainkan produk dari sistem yang dengan sengaja mempertahankan ketimpangan. Karena itu, bagi Dr. Iswadi, pendidikan bukan sekadar proses belajar mengajar, tetapi tindakan politis tindakan untuk membebaskan manusia dari struktur sosial yang menindas.

Pemikiran ini berakar pada pandangan bahwa pendidikan harus mampu menumbuhkan kesadaran kritis kemampuan manusia untuk memahami realitas hidupnya secara reflektif dan berani mengambil tindakan perubahan. Terinspirasi oleh pemikiran Paulo Freire, Dr. Iswadi meyakini bahwa pendidikan harus berfungsi sebagai sarana dialog, bukan dominasi. Guru bukan penguasa di kelas, dan murid bukan objek pasif yang hanya menerima pengetahuan. Dalam ruang belajar yang ideal, guru dan murid sama sama menjadi subjek yang berpikir, berdialog, dan tumbuh bersama dalam kesadaran.

ADVERTISEMENT

paralax

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dr. Iswadi memandang bahwa salah satu masalah terbesar dalam sistem pendidikan modern adalah dehumanisasi proses di mana manusia kehilangan kemanusiaannya karena pendidikan terlalu berorientasi pada hasil dan kompetisi. Sekolah menjadi tempat perlombaan nilai, bukan tempat penumbuhan karakter. Murid diajari untuk menghafal, bukan memahami; untuk patuh, bukan berpikir. Ia menolak keras praktik pendidikan yang menumbuhkan rasa takut: takut salah, takut gagal, bahkan takut berpikir berbeda. Padahal, dalam pandangan Dr. Iswadi, keberanian untuk berpikir kritis adalah langkah pertama menuju kebebasan.

Dalam berbagai kesempatan, ia menegaskan bahwa pendidikan sejati harus berpihak kepada yang lemah. Ia tidak percaya pada pendidikan yang hanya melayani mereka yang mampu, sementara jutaan anak di pelosok negeri harus berjuang tanpa fasilitas memadai. Ketika berbicara tentang kesetaraan pendidikan, Dr. Iswadi tidak berhenti pada wacana. Ia turun langsung ke lapangan, mengunjungi sekolah-sekolah di daerah tertinggal, membimbing para guru, dan membangun ruang belajar alternatif berbasis komunitas. Ia percaya bahwa perubahan besar berawal dari langkah langkah kecil yang tulus dan konsisten.

Selain mengajar, Dr. Iswadi aktif menulis artikel, buku, dan esai yang menyoroti problem struktural pendidikan Indonesia. Dalam tulisannya, ia menggugat sistem pendidikan yang cenderung melanggengkan ketimpangan sosial. Ia menyoroti bagaimana sekolah sekolah elite di perkotaan terus melahirkan kelas penguasa sementara sekolah di pedesaan tertinggal dalam segala hal. Bagi Dr. Iswadi, ketimpangan itu bukan takdir, melainkan akibat dari paradigma pendidikan yang salah arah paradigma yang lebih sibuk mengejar peringkat, bukan kesadaran.

Ia percaya bahwa pendidikan harus menjadi alat pemberdayaan rakyat, bukan alat reproduksi ketidakadilan. Dalam pandangannya, guru adalah ujung tombak perubahan sosial, bukan sekadar pekerja yang mengajar kurikulum. Karena itu, ia selalu mendorong para guru untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat, untuk terus membuka ruang refleksi, dan untuk melihat murid bukan sebagai angka dalam daftar nilai, melainkan sebagai manusia dengan potensi dan cerita masing-masing.

Relevansi pemikiran Dr. Iswadi terasa semakin kuat di era sekarang, ketika pendidikan sering kali terjebak dalam logika pasar. Sekolah menjadi bisnis, siswa menjadi konsumen, dan nilai-nilai kemanusiaan perlahan terpinggirkan. Di tengah situasi itu, gagasan Dr. Iswadi hadir sebagai pengingat bahwa pendidikan bukanlah industri, melainkan proses pembebasan manusia. Ia mengingatkan bahwa guru sejati adalah mereka yang menyalakan kesadaran, bukan hanya mengajarkan rumus.

Warisan pemikiran Dr. Iswadi tidak berhenti pada teks, tetapi hidup dalam semangat para murid dan pengikutnya. Setiap kali seorang guru menolak untuk memperlakukan siswanya dengan cara yang otoriter, setiap kali seseorang menggunakan ilmu untuk membela yang tertindas, di sanalah jejak pemikiran Dr. Iswadi masih hidup. Ia telah menunjukkan bahwa perlawanan tidak selalu berarti mengangkat senjata kadang cukup dengan sebatang pena, selembar papan tulis, dan keyakinan bahwa ilmu bisa membebaskan.

Dr. Iswadi mungkin tidak berjuang di medan perang, tetapi medan perjuangannya justru lebih luas: di pikiran, di kesadaran, dan di hati manusia. Melalui pendidikan, ia melawan kebodohan, menentang ketidakadilan, dan menyalakan cahaya bagi mereka yang haus akan kebebasan berpikir. Dalam arti yang paling dalam, pendidikan baginya adalah bentuk perlawanan paling mulia perlawanan untuk memanusiakan manusia.##

Berita Terkait

Prof Sutan Nasomal Amerika Mengirimkan Pasukan Ke Gerbang Kematian Sendiri Mengerikan Tantang Kematian Massal!!!
Dr. Iswadi Serukan Penghormatan Nasional atas Wafatnya Teungku Nyak Sandang
Dr. Iswadi: Reshuffle Kabinet Harus Perkuat Integritas dan Teknokrasi, Bukan Sekadar Kompromi Politik
DPP PJS Kumpulkan Pimpinan DPD Se-Indonesia, Bahas Persiapan Final Konstituen Dewan Pers
Dr. Iswadi Tanggapi Isu Reshuffle Kabinet Merah Putih: Momentum Evaluasi dan Penguatan Kinerja Pemerintahan
Ketum SPBI Dr. Iswadi Ajak Masyarakat Jaga Persatuan dan Kepercayaan Publik Menuju Indonesia Stabil dan Maju 2029
Menjaga Marwah Demokrasi: Dr. Iswadi Tolak Narasi Menjatuhkan Pemerintahan di Luar Mekanisme Konstitusi
Menjaga Marwah Demokrasi: Dr. Iswadi Tolak Narasi Menjatuhkan Pemerintahan di Luar Mekanisme Konstitusi

Berita Terkait

Jumat, 10 April 2026 - 06:15 WIB

Prof Sutan Nasomal Amerika Mengirimkan Pasukan Ke Gerbang Kematian Sendiri Mengerikan Tantang Kematian Massal!!!

Kamis, 9 April 2026 - 21:25 WIB

Dr. Iswadi Serukan Penghormatan Nasional atas Wafatnya Teungku Nyak Sandang

Rabu, 8 April 2026 - 07:02 WIB

DPP PJS Kumpulkan Pimpinan DPD Se-Indonesia, Bahas Persiapan Final Konstituen Dewan Pers

Selasa, 7 April 2026 - 21:56 WIB

Dr. Iswadi Tanggapi Isu Reshuffle Kabinet Merah Putih: Momentum Evaluasi dan Penguatan Kinerja Pemerintahan

Selasa, 7 April 2026 - 15:53 WIB

Ketum SPBI Dr. Iswadi Ajak Masyarakat Jaga Persatuan dan Kepercayaan Publik Menuju Indonesia Stabil dan Maju 2029

Berita Terbaru