Jakarta : Dalam perjalanan panjang dunia pendidikan Indonesia, banyak tokoh yang memberikan kontribusi bermakna melalui gagasan, karya, dan pengabdiannya. Salah satu di antaranya adalah Dr. Iswadi, M.Pd., seorang pendidik, peneliti, sekaligus penggerak literasi yang menempatkan pendidikan sebagai fondasi utama kemajuan bangsa. Jejak langkahnya menunjukkan bahwa perubahan pendidikan tidak hanya lahir dari kebijakan pemerintah, tetapi juga dari konsistensi individu dalam membangun budaya belajar yang berkelanjutan.
Dr. Iswadi dikenal sebagai sosok yang kuat dalam tradisi akademik, tetapi tetap membumi dalam praktik pendidikan sehari hari. Kariernya dimulai dari dunia pengajaran di tingkat Sekolah hingga perguruan tinggi. Pada setiap lini, ia menekankan bahwa kualitas pendidikan bertumpu pada guru yang reflektif, yaitu guru yang mampu mengevaluasi diri, memperbarui pengetahuan, dan menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan zaman. Baginya, guru bukan sekadar pelaksana kurikulum, tetapi agen perubahan yang menentukan keberhasilan proses belajar di kelas.
Selain menjadi akademisi, Dr. Iswadi aktif menulis buku, artikel, serta menyelenggarakan berbagai pelatihan literasi. Ia percaya bahwa kemampuan literasi bukan hanya kemampuan membaca dan menulis, tetapi kemampuan berpikir kritis, mengolah informasi, dan memecahkan masalah. Melalui gerakan literasi yang ia dorong, Dr. Iswadi ingin menciptakan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mampu beradaptasi dengan tantangan zaman.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Jika menelusuri gagasannya, tampak bahwa Dr. Iswadi selalu menempatkan humanisme pendidikan sebagai pusat perhatian. Menurutnya, pendidikan Indonesia sering kali terlalu fokus pada hasil akhir nilai, ranking, dan kelulusan sehingga mengabaikan proses yang sebenarnya membentuk karakter peserta didik. Ia sering menekankan pentingnya pembelajaran yang menumbuhkan empati, kreativitas, serta kemampuan berkolaborasi. Pendidikan, baginya, adalah upaya membentuk manusia seutuhnya, bukan sekadar individu yang siap kerja.
Refleksi terhadap sistem pendidikan Indonesia melalui pemikiran Dr. Iswadi memperlihatkan bahwa masih banyak tantangan yang harus diselesaikan. Pertama, kesenjangan kualitas pendidikan antara daerah perkotaan dan pedesaan masih tinggi. Akses terhadap fasilitas belajar, teknologi, serta tenaga pendidik yang kompeten belum merata. baginya pendidikan adalah hak semua anak, bukan hanya mereka yang tinggal di kota besar.
Kedua, Indonesia masih menghadapi masalah dalam hal penguatan kompetensi guru. Dr. Iswadi sering menyuarakan bahwa guru harus menjadi pembelajar sepanjang hayat. Dalam dunia yang berubah cepat, guru perlu terus memperbarui praktik mengajar, memahami karakter generasi baru, dan menguasai teknologi pendidikan. Ia menilai bahwa perubahan kurikulum tidak akan berdampak signifikan jika guru tidak diberdayakan secara optimal. Karena itu, ia selalu mengajak guru untuk melakukan refleksi diri, mengevaluasi pembelajaran, dan mengembangkan inovasi sederhana namun bermakna di kelas.
Ketiga, sistem pendidikan Indonesia juga menghadapi masalah budaya belajar yang sering kali bersifat instruktif dan kurang memberi ruang kepada siswa untuk berpikir kritis. Melalui pendekatan literasi, Dr. Iswadi mendorong pembelajaran yang lebih dialogis dan partisipatif. Ia percaya bahwa siswa harus diberi kebebasan bertanya, mengemukakan pendapat, dan mengaitkan pengetahuan dengan pengalaman nyata. Menurutnya, pembelajaran seperti inilah yang akan memicu tumbuhnya kreativitas dan kemandirian siswa.
Refleksi yang dihadirkan Dr. Iswadi tidak berhenti pada kritik, tetapi selalu disertai solusi. Ia menawarkan konsep pendidikan berbasis komunitas, yaitu pelibatan orang tua, masyarakat, dan lingkungan sekitar sebagai bagian dari ekosistem belajar. Ia menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya tugas sekolah, tetapi tanggung jawab bersama. Ketika budaya literasi hidup di rumah, ketika masyarakat menghargai ilmu pengetahuan, dan ketika sekolah menjadi pusat kegiatan belajar yang terbuka, maka pendidikan akan menemukan bentuk terbaiknya.
Jejak Dr. Iswadi mengingatkan kita bahwa perubahan besar dalam pendidikan selalu dimulai dari langkah kecil namun konsisten. Melalui karya, pengabdian, serta gagasan gagasannya, ia menunjukkan bahwa pendidikan Indonesia dapat bergerak menuju arah yang lebih humanis, berkualitas, dan merata. Refleksinya terhadap sistem pendidikan Indonesia memberikan gambaran bahwa meskipun jalan reformasi pendidikan masih panjang, optimisme harus tetap tumbuh. Dengan guru yang berdaya, siswa yang kritis, serta masyarakat yang peduli pendidikan, Indonesia memiliki modal besar untuk membangun masa depan yang lebih cerah. ##











